ANGGARAN RUMAH TANGGA SEKAR PERHUTANI

ANGGARAN RUMAH TANGGA
SERIKAT KARYAWAN PERUM PERHUTANI
(SEKAR PERHUTANI)

BAB I

NAMA, WAKTU, TEMPAT DAN LAMBANG

Pasal 1

Nama dan Waktu

  1. Lembaga ini bernama “SERIKAT KARYAWAN PERUM PERHUTANI” disingkat “SEKAR PERHUTANI”.
  2. Lembaga ini didirikan tanggal 11 Januari 2005 (11-01-2005) untuk waktu yang tidak ditetapkan.

Pasal 2

Kedudukan dan Wilayah Kerja

  1. SEKAR PERHUTANI berkedudukan di Jakarta dan berkantor serta beralamat untuk pertama kalinya di Kantor Direksi Perum Perhutani, Gd. Manggala Wanabakti Jl. Gatot Subroto – Senayan Jakarta.
  2. Wilayah kerja SEKAR PERHUTANI meliputi Wilayah Kerja Perum Perhutani.

Pasal 3

Lambang, Panji dan Mars

  1. Bentuk lambang SEKAR PERHUTANI adalah pohon dan manusia berdampingan diapit oleh padi dan kapas, di bagian bawah terdapat pita dengan tulisan SEKAR PERHUTANI didalamnya.
  2. Arti lambang :
  1. Pohon : Melambangkan sumberdaya alam termasuk hutan.
  2. Manusia  : Pemimpin di muka bumi.
  3. Padi kapas : Menunjukkan arah tujuan yaitu kesejahteraan.
  4. Pita: Merupakan symbol persatuan dan kesatuan dalam mempertahankan keberadaan Perum Perhutani.

3.  Panji SEKAR PERHUTANI ditentukan :

  1. Perbandingan panjang dan lebar 2 : 1
  2. Warna dasar putih
  3. Pada bagian sisi lebar luar diberi rumbai warna kuning
  4. Posisi lambang tepat di tengah dengan jarak dengan sisi panjang maksimal 15 cm.

4. Mars SEKAR PERHUTANI adalah lagu resmi SEKAR PERHUTANI.

BAB II

AZAS

Pasal 4

SEKAR PERHUTANI berazaskan Pancasila.

BAB III

SIFAT DAN TUJUAN

Pasal 5

  1. SEKAR PERHUTANI mempunyai sifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggungjawab.
  2. SEKAR PERHUTANI bertujuan :
  1. Bersama dengan manajemen mewujudkan pengelolaan hutan di Jawa dan Madura secara Lestari
  2. Mempertahankan Keberadaan Perum Perhutani dalam waktu yang tidak terbatas.
  3. Memberikan perlindungan, pembelaan hak dan memperjuangkan kepentingan serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja.

3. Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), SEKAR PERHUTANI mempunyai fungsi :

  1. Sebagai pihak dalam pembuatan perjanjian kerjasama dan penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatan.
  2. Sebagai wakil pekerja dalam lembaga kerjasama di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatan.
  3. Sebagai sarana menciptakan hubungan yang harmonis, dinamis dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
  4. Sebagai sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya.
  5. Sebagai perencana, pelaksana dan penanggungjawab pemogokan pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 6

Kegiatan

Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pasal 5, SEKAR PERHUTANI mempunyai tugas :

  1. Mengadakan perjanjian kerjasama dan penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatan.
  2. Mewakili pekerja dalam lembaga kerjasama di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatan.
  3. Menciptakan hubungan yang harmonis, dinamis dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
  4. Menyalurkan aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya.
  5. Merencanakan, melaksanakan dan penanggungjawab pemogokan pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 7

Sumber Keuangan

Kegiatan yang dilakukan oleh SEKAR PERHUTANI, dibiayai oleh :

  1. Iuran anggota Rp. 2.000,-/orang, dengan distribusi 50% DPD, 30% DPW dan 20% DPP.
  2. DPD dapat menetapkan sendiri tambahan iuran anggota.
  3. Sumbangan dan atau bantuan donatur, simpatisan dan lembaga lain yang tidak mengikat.
  4. Hasil usaha lain yang saha.

BAB IV

KEANGGOTAAN

Pasal 8

Anggota

(1)

Anggota SEKAR PERHUTANI adalah :

  1. a. Anggota Biasa
  2. b. Anggota Kehormatan

(2) Anggota Biasa adalah setiap karyawan Perum Perhutani dan pekerja PKWT (Pekerja Kontrak Waktu Tertentu) yang mendaftarkan diri sebagai anggota SEKAR PERHUTANI..

(3) Anggota Kehormatan adalah mantan karyawan Perum Perhutani dan mereka yang bukan karyawan Perum Perhutani tetapi dipandang berjasa bagi SEKAR PERHUTANI.

Pasal 9

Tata Cara Menjadi Anggota

  1. Permintaan menjadi anggota diajukan kepada Pengurus Daerah (DPD) SEKAR PERHUTANI melalui pengisian formulir dan memenuhi ketentuan organisasi.
  2. Anggota Kehormatan ditetapkan oleh DPP atas usulan DPD/DPW.
  3. Anggota Biasa diberikan kartu tanda anggota yang ditetapkan pengurus DPD.

BAB V

ORGANISASI DAN PENGURUS

Pasal 10

Anggota Pengurus

  1. Anggota MPO terdiri dari SEKAR PERHUTANI senior yang jumlahnya disesuaikan dan ditunjuk oleh DPP
  2. Anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) terdiri dari :
  1. Satu orang ketua umum dan didampingi oleh Ketua I dan Ketua II.
  2. Satu orang Sekretaris Jenderal dan didampingi Sekretaris I dan II.
  3. Dua orang Bendahara.
  4. Pengurus Bidang yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

3. Anggota DPW terdiri dari :

  1. Satu orang Ketua didampingi satu orang wakil ketua.
  2. Satu orang Sekretaris didampingi satu orang wakil sekretaris.
  3. Satu orang Bendahara didampingi satu orang wakil bendahara.
  4. Pengurus Bidang yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

4. Anggota DPD terdiri dari :

  1. Satu orang Ketua didampingi satu orang wakil ketua.
  2. Satu orang Sekretaris didampingi satu orang wakil sekretaris.
  3. Satu orang Bendahara didampingi satu orang wakil bendahara.
  4. Pengurus Bidang yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Pasal 11

Pemilihan Pengurus

  1. Pengurus MPO dan DPP ditetapkan dalam MUBES.
  2. Pengurus Wilayah dipilih dan ditetapkabn dalam MUSWIL.
  3. Pengurus Daerah dipilih dan ditetapkabn dalam MUSDA.
  4. Mekanisme pemilihan pengurus akan diatur dalam masing-masing musyawarah.
  5. Dalam kepengurusan tidak diperkenankan adanya rangkap jabatan.

Pasal 12

Pengukuhan dan Sahnya Pengurus

  1. Pengurus yang sudah dipilih sebagaimana ketentuan pasal (11) di atas adalah dinyatakan sudah mendapat pengakuan dan sah menurut organisasi.
  2. Pembentukan pengurus harus dilengkapi dengan surat keputusan musyawarah dan dilantik dihadapan peserta musyawarah.

BAB VI

RAPAT ORGANISASI

Pasal 13

Rapat Kerja

Rapat kerja adalah sidang-sidang antar waktu yang diselenggarakan sekurang-kurangnya tiap 1 (satu) tahun sekali oleh pengurus SEKAR PERHUTANI, terdiri dari :

  1. Rapat Kerja SEKAR PERHUTANI yang dihadiri oleh pengurus dan perwakilan anggota.
  2. Fungsi rapat kerja adalah :
  1. a. Meningkatkan pembinaan kehidupan organisasi.
  2. b. Evaluasi program-program dan perjuangan organisasi.
  3. c. Menanggapi dan menilai berbagai masalah ketenagakerjaan dan sosial yang timbul.

Pasal 14

Rapat Pengurus

Rapat Pengurus adalah rapat yang dilaksanakan masing-masing pengurus dalam menjalankan fungsi organisasi, sekurang-kurangnya 2 (jali) dalam setahun.

Pasal 15

Sahnya Rapat Organisasi

  1. Sahnya Rapat Kerja dan Rapat Pengurus Organisasi sah apabila dijalankan bilamana :
  1. Dihadiri oleh sedikitnya 50% ditambah 1 dari jumlah anggota yang semestinya hadir menjadi peserta/pengurus di dalam organisasi.
  2. Dalam sidang-sidang pengambilan keputusan sedikitnya dihadiri oleh 50% ditambah 1 (satu)

2.  dalam hal kebijakan yang strategis harus melakukan musyawarah bersama dengan perwakilan pengurus DPW

dan MPO.

BAB VII

HAK SUARA

Pasal 16

Pemungutan Suara

  1. Pengambilan keputusan dalam sidang-sidang organisasi agar diupayakan dengan msuyawarah untuk mufakat, namun demikian bilamana cara ini tidak mencapai hasil, maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak melalui pemungutan suara.
  2. Mekanisme dan jumlah hak suara diatur dalam tata tertib musyawarah.

Pasal 17

Fungsi dan Tata Kerja Pengurus

  1. Ketua, Sekretaris, Bendahara adalah jabatan yang menjalankan fungsi pengurus sehari-hari secara individu maupun kolektif.
  2. Fungsi pengurus adalah pengembang visi, misi dan tugas-tugas organisasi.

Pasal 18

Wewenang Rapat Pengurus

  1. Rapat pengurus dipimpin oleh Ketua.
  2. Wewenang rapat kepengurusan adalah mengatur dan menetapkan lebih lanjut mengenai tata tertib kebijaksanaan kepengurusan.

BAB VIII

TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PENGURUS

Pasal 19

Tugas dan Tanggungjawab MPO

Tugas dan tanggungjawab MPO terdiri dari :

  1. Memberikan pembinaan, usul dan saran kepada DPP baik diminta maupun tidak diminta mengenai kebijakan, pelaksanaan kebijakan dan hal-hal strategis lainnya yang berpengaruh terhadap kemajuan ataupun mengakibatkan kemunduran terhadap organisasi.
  2. Melakukan pengawasan terhadap jalannya kepengurusan organisasi yang dilaksanakan oleh DPP.
  3. Dalam hal-hal khusus setelah memperoleh mandate dari DPP, MPO dapat mewakili kepentingan organisasi.

Pasal 20

Tugas dan Tanggungjawab DPP

Tugas dan tanggungjawab DPP terdiri dari :

  1. Melaksanakan keputusan MUBES dan memimpin kegiatan organisasi sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
  2. Menyusun dan melaksanakan program kegiatan organisasi.
  3. Mengadakan kerjasama dan melaksanakan koordinasi/konsultasi secara berkala dan atau sewaktu-waktu dengan Manajemen Perusahaan.
  4. Memberikan laporan dan pertanggungjawaban kepada MUBES tentang kegiatan organisasi.
  5. Melaksanakan pembinaan kepada DPW dan DPD tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan organisasi.

Pasal 21

Tugas dan Tanggungjawab DPW

Tugas dan tanggungjawab DPW terdiri dari :

  1. Melaksanakan keputusan MUSWIL dan memimpin kegiatan organisasi sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
  2. Mengadakan kerjasama dan melaksanakan koordinasi/konsultasi secara berkala dan atau sewaktu-waktu dengan Manajemen Perusahaan.
  3. Memberikan laporan dan pertanggungjawaban kepada MUSWIL tentang kegiatan organisasi.
  4. Melaksanakan pembinaan tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan organisasi.
  5. Menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi pada tingkat daerah yang pelaksanaannya tidak bertentangan dengan AD/ART.

Pasal 22

Tugas dan Tanggungjawab DPD

Tugas dan tanggungjawab DPD terdiri dari :

  1. Melaksanakan keputusan MUSDA dan memimpin kegiatan organisasi sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
  2. Mengadakan kerjasama dan melaksanakan koordinasi/konsultasi secara berkala dan atau sewaktu-waktu dengan Manajemen Perusahaan.
  3. Memberikan laporan dan pertanggungjawaban kepada MUSDA tentang kegiatan organisasi.
  4. Melaksanakan pembinaan tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan organisasi.
  5. Menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi pada tingkat daerah yang pelaksanaannya tidak bertentangan dengan AD/ART.

Pasal 23

Wewenang DPP

  1. DPP berwenang menjalankan tugas-tugas khusus yang bersifat strategis setelah melakukan musyawarah dengan DPW.
  2. Pengurus berwenang menandatangani peraturan-peraturan dan atau perjanjian kerja bersama dengan Pengurus Perusahaan Perum Perhutani atau Direksi Perusahaan Perum Perhutani serta hal-hal lain yang menguntungkan karyawan dan Perhutani.

Pasal 24

Wewenang DPW

  1. DPW berwenang menjalankan tugas-tugas khusus yang bersifat strategis setelah melakukan musyawarah dengan DPD

Pasal 25

Wewenang DPD

  1. DPD berwenang menjalankan tugas-tugas khusus yang bersifat strategis setelah melakukan musyawarah dengan anggota atau DPC

BAB IX

PEMBERHENTIAN DARI ORGANISASI DAN ATURAN DISIPLIN

Pasal 26

Pemberhentian

Berhenti menjadi anggota dan atau berhenti dari jabatan pengurus SEKAR PERHUTANI dapat terjadi karena :

  1. Permintaan sendiri
  2. Meninggal dunia
  3. Tindakan indisipliner
  4. Berhenti menjadi karyawan

Pasal 27

Sanksi Tindakan Indisipliner

Sanksi tindakan indisipliner dijalankan melalui tahapan :

  1. Tegusan lisan
  2. Teguran tertulis : ke I, II
  3. Scorsing selama 6 (enam) bulan
  4. Pemberhentian


Pasal 28

Pembelaan

  1. Anggota dan pengurus yang dikenai tindakan indisipliner berhak melakukan pembelaan diri sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  2. Pembelaan diri untuk pemberhentian di dalam sidang-sidang organisasi menurut jenjang organisasi masing-masing.

BAB X

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 29

Keadaan Darurat

  1. Bilamana timbul suatu keadaan membahayakan persatuan dan kesatuan terhadap kehidupan SEKAR PERHUTANI maka ketua dapat menyatakan terjadinya keadaan darurat.
  2. Dalam keadaan darurat maka pengurus dapat melakukan sidang organisasi Luar Biasa dan berhak mengambil keputusan yang mengikat.

Pasal 30

Hal-hal yang belum diatur didalam Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur melalui peraturan organisasi dan keputusan-keputusan organisasi SEKAR PERHUTANI.

Pasal 31

Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

DITETAPKAN DI : MADIUN

PADA TANGGAL : 6 MARET 2007

1. Pimpinan Sidang I : Andi Adrian Hidayat ……………………………

2. Pimpinan Sidang II : Amas Wijaya ……………………………

3. Pimpinan Sidang III : Yuri Yuriana ……………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: