TANPA SEKAR PERHUTANI SUKAR, TANPA SEKAR KARYAWAN GUSAR

Oleh Taufik [Ketua DPW Sekar Jateng]

Salah satu tulisan dalam banner yang ikut meramaikan musyawarah wilayah ke-2 DPW Sekar Unit I Jawa Tengah.  Musyawarah DPW Sekar  Unit I Jawa Tengah berlangsung 2 hari, tanggal 19 – 20 Januari 2009, bertempat di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Srondol – Semarang yang berlangsung penuh semarak dan semangat.  Musyawarah wilayah dihadiri oleh perwakilan segenap DPD dan DPW sebagai peserta dan Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO), DPP, DPW Unit II sebagai peninjau, DPW Sekar Unit III berhalangan hadir karena bersamaan dengan assesment PHL, serta tamu undangan lainnya.  Jumlah keseluruhan yang hadir 150 orang. Tema yang diangkat dalam musyawarah wilayah ke-2 DPW Sekar Unit I adalah  ”Peningkatan Solidaritas dan Kapabilitas Guna Memperkokoh Jiwa Korsa dan Profesionalisme Dalam Menghadapi Tantangan Global ”.  Musyawarah dibuka oleh Plh Kepala Unit, Ir. Bambang Setiabudi yang mewakili manajemen.  Dalam sambutannya antara lain  menekankan bahwa keberadaan serikat karyawan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja, Bab VII Perlindungan Hak Berorganisasi , Pasal 28 yang intinya siapapun dilarang menghalang-halangi atau melakukan intimidasi terhadap karyawan yang berserikat, selain itu berdasarkan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Bab I Ketentuan Umum, Pasal 4 dan 6 tentang Jeminan Bagi Sekar dan Bantuan dan Fasilitas Bagi Sekar.   Manajemen di tingkat manapun yang melakukan pelarangan terhadap sekar untuk beraktifitas baik sengaja maupun tidak sengaja diancam hukuman oleh Undang-Undang.  Menurut Plh Kepala Unit , Perum Perhutan hanya bisa membuat PKB dengan Serikat Karyawan, karena sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, hanya serikat yang beranggotakan lebih dari 50% karyawana yang dapat menandatangani PKB.  Perjanjian Kerja Bersama sifatnya mengikat siapa pun, baik manajemen maupun karyawan.  Lebih jauh disampaikan, bahwa persoalan yang muncul di perusahaan tidak mesti disikapi dengan pendirian serikat baru, karena hal ini bukan memberikan solusi, tetapi justru menciptakan masalah baru.  Serikat Karyawan dalam menghadapi tantangan global, diharapkan menjadi bagian dari solusi, menyadarkan dan menyatukan kembali segenap karyawan.  Menghadapi situasi perusahaan yang kelihatan tidak menentu saat krisis keuangan seperti ini di saat banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya, bahkan tidak sedikit yang melakukan PHK mestinya karyawan Perhutani semakin solid dengan mengasah kapabilitas menuju profesionalisme.

Menurut keterangan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang diwakili oleh bagian Hubungan Industrial, bahwa data sementara di Jawa Tengah tercatat 1,3 juta penduduk mengganggur, dan telah terjadi sekitar 60.000 an karyawan yang dirumahkan serta 62.625 karyawan yang terkena PHK.  Kebijakan Perum Perhutani akan tetap mempertahankan karyawannya,  hanya jika kondisi perusahaan sehat, artinya sumberdaya hutannya dikelola dengan baik.  Keberadaan sumberdaya hutan akan dapat terjaga dengan baik, apabila dua faktor penentunya dapat  dijamin pula keberadaannya.  Dua faktor tersebut adalah; (1) Faktor dari luar, masyarakat sekitar hutan dapat memperoleh fungsi dan manfaat dari hutan, dan (2) Faktor dari dalam, para karyawan merasa terayomi, nyaman, adanya kejelasan nasib dan merasakan kesejahteraan.  Pertanyaannya adalah manakah yang harus didahulukan, melestarikan sumberdaya hutannya dulu atau menjamin keberadaan karyawannya dan masyarakat sekitar hutan.  Tentunya manusia nya, sebagai pengelola hutan harus ditingkatkan kualitas dan kapasitasnya ”The man behind the gun”.

Menyimak kondisi tersebut, maka pada harlah Sekar yang ke-4 tahun 2009, Sekar yang masih balita, tentunya masih perlu banyak belajar, mengenali lingkungan sekitar.  Hal yang terpenting Sekar harus wasapada terhadap golongan atau pihak-pihak tertentu yang ingin mengkerdilkan dan memarjinalkan Sekar.  Sekar harus independen, hanya berpihak pada karyawan dan eksistensi perusahaan.  Bukan saatnya lagi sekar dijadikan tunggangan, kendaraan untuk mencapai jabatan tertentu, menurut sebagaian ”issue” dapat jabatan,  sekar ditinggalkan.  Dengan demikian keberadaan sekar di Perhutani memang vital.  Sebagai slogannya ”Tanpa Sekar Perhutani Sukar ” dan ”Tanpa Sekar Karyawan Gusar ”.

Hal ini terbukti bahwa selama ini karyawan lebih termarjinalkan dengan kebijakan para pemegang tampuk tertinggi di Perhutani yang seolah-olah sebagai  ”Raja”, perusahaan ini seakan-akan miliknya, tanpa menghiraukan apalagi memikirkan kondisi karyawan yang menopang perusahaan ini.  Banyak potensi hutan yang ”hijau royo-royo” adalah hasil karya para mandor yang nasibnya tidak pernah terfikirkan saat itu.  Terkadang hanya janji-janji manis yang disampaikan untuk menghibur dan meredakan tuntutannya.

Proses perjalanan reformasi, antara tahun 1997 sampai dengan tahun 2003, membuktikan bahwa paradigma ”State based forest management” tidak laku lagi. Pilar-pilar utama Perhutani berupa potensi sumberdaya hutan di banyak tempat ludes dijarah banyak orang serta mental karyawan Perhutani down.   Kehilangan kepercayaan diri (self confident loss) karyawan Perhutani saat itu, karena karyawan tidak dianggap sebagai faktor penting dalam keberlanjutan perusahaan. Kebijakan-kebijakan berkaitan dengan nasib karyawan lebih bersifat ”top down” tanpa pernah mengajak dialog dengan karyawan.  Akibat tekanan dan didikan ala ”kompeni” banyak pejabat dan karyawan yang bermental ”ABS” serta mental ”belah bambu” , dan ini awal kehancuran dari Perhutani.  Beberapa data tanah kosong saat itu yang berkaitan langsung dengan potensi sumberdaya hutan disampaikan aman-aman saja.  Situasi kerja dalam suasana yang serba khawatir dan penuh rasa ketakutan.

Kondisi di atas mengingatkan, betapa penting peranan karyawan dalam mempertahankan eksistensi perusahaan. Praktek-praktek yang selama ini dijalankan oleh Perhutani, mulai struktur gaji yang belum seirama dengan permintaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 (75% gaji pokok dan 25% tunjangan) adalah persoalan krusial yang harus diselesaikan.  Banyak karyawan Perhutani yang menderita setelah  purna tugas/pensiun.  Darma baktinya tidak diperhatikan bahkan seakan dicampakkan begitu saja. Karyawan Perhutani kalau akan mengambil pensiunan mengambil antrian paling belakang, karena malu.  Selain itu model pola karier yang tidak jelas, sehingga banyak ditemui karyawan yang berusia belasan tahun, bahkan dua puluhan tahun, bahkan hampir pensiun, bahkan pensiun yang statusnya tenaga kontrak saat itu. Barangkali beberapa hal yang berkaitan dengan pendzoliman terhadap karyawan mengantarkan Perhutani ke depan pintu gerbang kehancuran.

Dari sisi eksternal munculnya kebijakan-kebijakan yang tanpa disadari banyak  mempreteli kebijakan Perhutani tanpa ada yang bereaksi.  Contohnya adanya peraturan yang dimunculkan berkaitan dengan tata usaha hasil hutan dan peredaran hasil hutan yang semakin mempersempit posisi Perhutani, serta adanya kawasan Perhutani yang mulai dilirik untuk kepentingan tertentu.  Semua itu semakin menyulitkan posisi  Perhutani, apabila  tanpa melibatkan kecerdasan karyawan untuk melindunginya.

Sudah saatnya iklim keterbukaan dan pemerhatian kepada karyawan mendapatkan tempat yang sewajarnya.  Rekayasa-rekayasa jangan lagi ditampilkan, situasi kritis karyawan sejalan dengan ”Prinsip-Prinsip Good Corporate Governent (GCG)” yang selalu didengungkan   sudah menjadi catatan dan ingatan semua karyawan.  Perilaku manajemen dari tingkat bawah sampai tingkat atas mudah di dengar oleh karyawan sampai lapisan bawah.  Sekali lagi, ini membuktikan bahwa Sekar sangat dibutuhkan, dengan Serikat Karyawan yang independen, hanya berpihak pada karyawan dan keberadaan perusahaan akan membawa kejayaan Perhutani dan kesejahteraan karyawan, sebaliknya dagelan-dagelan atau perilaku-perilku aneh para pejabat/manajemen dengan egonya masing-masing untuk mempertahankan atau meraih jabatannya di Perhutani yang sangat terlihat jelas di mata karyawan akan menjadi bahan tertawaan dan gunjingan yang tidak sehat. Hal ini akan berdampak pada rasa tidak percaya dan akhirnya mengganggu gairah dan etos kerja. Sudah saatnya kita berbenah diri untuk menatap hari esok yang lebih baik lagi ”Jangan Ada Dusta di Antara Kita”, selamat Ulang Tahun Sekar yang ke – 4 semoga Kamu tetap di hati kita semua ………..aamiin.  salam ……..sekar ……”Sekar Tetap Kompak ……Berjuang Tetap Semangat”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: