PERILAKU EKSTRA PERAN

Oleh Dadan Wachju Wardhana

Perilaku ekstra peran menurut  Aldag dan Rescke (1997) diartikan sebagai kontribusi seorang individu dalam bekerja, dimana melebihi persyaratan yang ditetapkan dan penghargaan atas keberhasilan  kerja yang dijanjikan. Kontribusi tersebut seperti perilaku menolong sesame yang lain, kerelaan melakukan pekerjaan tambahan, menjunjung prosedur dan aturan kerja tanpa menghiraukan permasalahan pribadi merupakan satu bentuk dari prosocial behavior, sebagai perilaku social yang positif, konstruktif, dan suka member pertolongan.

Menurut Organ (1988, dalam Tschannen-Moran, 2003), perilaku ekstra peran diimplementasikan dalam bentuk “perilaku altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy, dan civic virtue”.

Altruism yaitu sifat mementingkan kepentingan orang lain, seperti memberikan pertolongan pada kawan kerja yang baru, dan menyediakan waktu untuk orang lain.

Conscientiousness yaitu sifat kehati-hatian, seperti efisiensi menggunakan waktu, tingkat kehadiran tinggi.

Sportmanship yaitu sifat sportif dan positif, seperti menghindari complain dan keluhan yang picik.

Courtesy yaitu sifat sopan dan taat, seperti melalui surat peringatan, atau pemberitahuan sebelumnya, dan meneruskan informasi dengan tepat.

Civic virtue yaitu sifat bijaksana atau keanggotaan yang baik, seperti melayani komite atau panitia, melakukan fungsi-fungsi sekalipun tidak diwajibkan untuk membantu memberikan kesan baik bagi organisasi.

Seperti halnya sebagian besar perilaku yang lain, perilaku ekstra peran ditentukan oleh banyak hal artinya tidak ada penyebab tunggal dalam perilaku ekstra peran. Sesuatu yang masuk akal bila kita menerapkan perilaku ekstra peran secara rasional. Salah satu pendekatan motif dalam perilaku organisasi berasal dari kajian McClelland dan rekan-rekannya. Menurut McCelland (dalam Hasibuan, 2000), manusia memiliki tiga tingkatan motif, yaitu :

  1. Motif berprestasi, mendorong orang untuk menunjukkan suatu standar keistimewaan (excellence), mencari prestasi dari tugas, kesempatan atau kompetisi.
  2. Motif afiliasi, mendorong orang untuk mewujudkan, memelihara dan memperbaiki hubungan dengan orang lain.
  3. Motif kekuasaan mendorong orang untuk mencari status dan situasi dimana mereka dapat mengontrol pekerjaan atau tindakan orang lain.

Kerangka motif berprestasi, afiliasi dan kekuasaan telah diterapkan untuk memahami mengapa orang menunjukkan Perilaku Ekstra Peran.

Perilaku Ekstra Peran dianggap sebagai alat untuk prestasi tugas (task accomplishment). Ketika prestasi menjadi motif, perilaku ekstra peran muncul karena perilaku tersebut dipandang perlu untuk kesuksesan tugas tersebut. Perilaku seperti menolong orang lain, membicarakan perubahan dapat mempengaruhi orang lain, berusaha untuk tidak mengeluh, berpartisipasi dalam rapat unit merupakan hal-hal yang dianggap kritis terhadap keseluruhan prestasi tugas, proyek, tujuan atau misi. Pendek kata,” masyarakat yang memiliki motivasi berprestasi” memandang tugas dari perspektif yang lebih menyeluruh.

Masyarakat yang berorientasi pada prestasi akan tetap menunjukkan Perilaku Ekstra Peran selama cukup kesempatan untuk melakukannya, hasil-hasil penting didasarkan pada performance pribadi masyarakat, tujuan tugas yang telah terdefinisi secara jelas dan feedback performance yang diterima.Sering Perilaku Ekstra Peran dianggap sebagai “hal yang kecil” yang harus dilakukan oleh seseorang, tetapi tidak seorangpun diarahkan untuk melakukannya. Karena itu sebagian besar orang mengabaikannya. Masyarakat yang berorientasi pada prestasi memperlihatkan performance Prilaku Ekstra Peran sebagai suatu kontribusi yang unik terhadap unit kerja, membantu unit tersebut untuk bekerja lebih efisien (Organ, 1988).

Motif afiliasi dipandang sebagai suatu komitmen terhadap pemberian pelayanan pada orang lain. Masyarakat yang berorientasi pada afiliasi membantu orang lain karena mereka membutuhkan bantuan, atau menyampaikan suatu informasi karena hal tersebut menguntungkan penerima. Masyarakat ini akan bersungguh-sungguh karena seseorang (atasan ataupun pelanggan) membutuhkan mereka. Hasil performance mereka tidak sebanyak perhatian tentang keuntungan yang diterima oleh orang lain. Mereka menempatkan prioritas pada perilaku ekstra peran, meskipun kadang-kadang merugikan dirinya. Paradigma ini mengakomodasikan literature yang menunjukkan hubungan antara komitmen organisasi dan perilaku ekstra peran (O’reilly & Chatman, 1986; William & Anderson, 1991). Masyarakat yang berorientasi pada afiliasi akan menunjukkan komitmen terhadap orang lain dalam organisasi : rekan kerja, manajer atau supervisor. Perilaku menolong, berkomunikasi, bekerjasama dan berpartisipasi kesemuanya muncul dari keinginan mereka untuk memiliki dan tetap berada dalam kelompok. Selama masyarakat tersebut memahami bahwa kelompok tersebut bernilai, perilaku ekstra peran akan tetap berlanjut. Pada masyarakat yang berorientasi pada afiliasi pemberian pelayanan terhadap orang lain merupakan prioritas utama. Hal ini diduga berkaitan dengan nilai spiritual yang didukung oleh tingkat perkembangan moral yang lebih tinggi (Kohlberg, 1969).

Masyarakat yang berorientasi pada kekuasaan menganggap perilaku ekstra peran merupakan alat untuk mendapatkan kekuasaan dan status dengan figure otoritas dalam organisasi. Tindakan-tindakan perilaku ekstra peran didorong oleh suatu komitmen terhadap agenda karir seseorang.

Dari hasil penelitian-penelitian mengenai pengaruh perilaku ekstra peran terhadap kinerja organisasi (diadaftasi dari Podsakoff dan MacKenzie oleh Podsakoff, dkk, 2000, dalam Elfina P, 2003 : 5-6), dapat disimpulkan hasil sebagai berikut :

  1. Perilaku ekstra peran meningkatkan produktivitas rekan kerja
  2. Perilaku ekstra peran meningkatkan produktivitas manajer
  3. Perilaku ekstra peran menghemat sumberdaya yang dimiliki manajemen dan organisasi secara keseluruhan.
  4. Perilaku ekstra peran membantu menghemat energy sumberdaya yang langka untuk memelihara fungsi kelompok
  5. Perilaku ekstra peran dapat menjadi sarana efektif untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan kelompok kerja.
  6. Perilaku ekstra peran meningkatkan kemampuan organisasi untuk menarik dan mempertahankan karyawan terbaik.
  7. Perilaku ekstra peran meningkatkan stabilitas kinerja organisasi
  8. Perilaku ekstra peran meningkatkan kemampuan organisasi untuk beradaftasi dengan perubahan lingkungan.

Dadan W wardhana

Wakil Bendahara DPW Sekar Janten, saat ini bertugas di KPH Ciamis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: