MELIHAT DUNIA SEPERTI APA YANG KITA MAU

Oleh Yahya Amin (Ketua II DPP SEKAR)

Ada seseorang, sebut saja A, menerima uang seratus ribu rupiah dari orang lain. A sangat berterima kasih kepada yang memberi. Tidak sekedar itu, dia menganggap sang pemberi adalah malaikat penolong karena dia sudah tiga hari tidak makan. B juga menerima uang seratus ribu. Dia justru tak suka, bahkan menganggap yang memberi uang kepadanya tidak adil karena saudaranya yang lain memperoleh sejuta. Lain lagi dengan C. Ketika menerima uang seratus ribu, dia merasa dilecehkan. “Bupati kok cuma diberi cepek”, gumamnya. Bagaimana dengan si D? Ketika mendapatkan uang seratus ribu, dia langsung berlari kencang. D yang seorang pengamen kuatir uangnya diminta lagi. Dia merasa orang yang memberinya seratus ribu telah “salah ambil”.

Itulah dunia. Kita melihatnya tidak seperti apa adanya, tetapi kita melihat dunia seperti apa yang kita mau.

SP2P hadir diantara kita. Ada yang menganggapnya sebagai barisan sakit hati, latah atau kumpulan alumni tertentu. Ada juga yang menerimanya dengan segenap rindu, suka cita dan penuh harapan. Terserah, kita tidak bisa mengatur penerimaan orang lain. Itulah dunia. Kita tidak melihatnya seperti apa adanya, tetapi seperti apa yang kita mau. Dan, itu amat tergantung kedewasaan dan kesakinahan pikiran kita.

Sebagai pengurus Sekar dan pegawai Perhutani, saya menganggap Sekar adalah Coca Cola. Coke kelihatan besar, justru karena ada Pepsi Cola. Bagaimana mungkin kita menganggap Sekar bagus atau besar jika tidak ada pembandingnya? Hari ini kita sering mengkritisi PLN karena byar pet, main putus dan denda, dll yang serba minor. Kalau saja ada perusahaan listrik yang lain, belum tentu nasib PLN seperti ini. Boleh jadi kita akan menilai PLN bagus, karena perusahaan listrik yang lain ternyata lebih parah.

Mencermati tujuan SP2P yang nyaris setali tiga uang dengan Sekar, yakni mempertahankan eksistensi Perhutani dan memperjuangkan kesejahteraan karyawan, saya melihat peluang untuk sinergis. Kita bisa bergandeng tangan mensosialisasikan hak dan kewajiban karyawan serta hak dan kewajiban manajemen kepada seluruh insan Perhutani, sebagaimana Coke dan Pepsi fastabiqul khairat dalam mensosialisasikan minuman bercola di seluruh dunia. Soal customer membeli Coke atau Pepsi, itu adalah hak pribadi mereka, tentu saja, setelah melihat dan membandingkan kiprah keduanya.

Atau, mungkin lebih pas jika kita umpamakan Sekar adalah Teh Sosro saja. Sehingga kita bisa bilang, “Apapun makanannya, minumnya tetap Teh Sosro”. Bagaimana pendapat Anda?

1 Komentar

  1. atjong siswana said,

    22 April 2009 pada 6:42 am

    sampiyan niku lagi njelaske SP2P napa promo SEKAR ta Mas, nek konsumen niku sak niki sami kritis lho. Sakderenge diombe mesti diwaca indikasine
    trus ditaker isine. Nek ” teh ” sampiyan pengen tetep dipilih kalih disenengi
    konsumen, sukur omzet tambah mundak, tergantung kalih kesanggupan
    sampiyan netepi spesifikasi ” teh ” dagangan sampiyan, sukur nek saged nambahi khasiate. and aja sampek tercemar bakteri trus mambu. wah..
    keracunan mengke he he he.. Wasalamu alaikum Ustadz


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: