KEKUATAN MIMPI

Oleh: Yahya Amin *

Kuberitahu satu rahasia padamu, Kawan

buah paling manis dari berani bermimpi

adalah kejadian-kejadian menakjubkan

dalam perjalanan menggapainya

(Andrea Hirata, 2008; Maryamah Karpov; Penerbit Bentang, Yogyakarta)

Aku ingin berbagi kisah kepadamu, Kawan, tentang “kekuatan mimpi”. Aku selalu menceritakannya dengan mata berbinar dan berkaca. Berbinar, karena aku selalu semangat dan gembira dalam mengisahkannya. Aku ingin berbagi bahagia denganmu. Berkaca, karena selalu saja ada titik air di sudut kedua mataku.

Pernah kudengar cerita, usia batita (bawah tiga tahun) adalah golden period, usia emas. Delapan puluh prosen pertumbuhan otak manusia konon dibentuk pada tiga tahun pertama hidupnya.

Kawan, tahun 1993, aku punya anak pertama, laki-laki. Kuberi nama Muhammad Amirul Ilman: pemimpin yang berilmu. Tahun 1995-1996 adalah masa aku sering menceritakan mimpiku kepada anakku. Berkali-kali aku mengatakan kepadanya, “Wahai anakku, Sayang. Teknologi negara kita masih ketinggalan kereta. Terbelakang. Negara terpaksa mendatangkan expatriat, tenaga ahli dari luar negeri. Itu menghabiskan devisa. Nanti kalau sudah besar, kamu harus jadi ahli teknologi tinggi. Jadi profesor. Kamu sekolah di Jerman atau Inggris. Teknologinya maju, sepak bolanya juga maju. Di Jerman kamu bisa nonton Bundesliga, dan di Inggris kamu bisa nonton Manchester United. Jangan kuliah di Amerika. Teknologinya memang maju, tapi sepakbolanya payah”.

Kadang dalam kesempatan santai saat nonton TV, aku melanjutkan obsesiku, “Anakku, Sayang. Jerman dan Inggris itu amat dekat dengan Italia, Perancis dan Spanyol. Lebih dekat daripada Ponorogo-Jakarta. Kamu cukup naik kereta api untuk bisa nonton bola di Serie A Italy, French Ligue dan Primera Espana”. Atau di lain kesempatan, dengan bercanda aku mengatakan, “Di Eropa ada musim salju, Sayang. Esnya buanyak, gratis. Kamu cuma perlu modal madu atau sirup dan air, tinggal ambil es. Enak sekali”.

Tentu saja anakku tak paham istilah expatriat, devisa atau Primera Espana. Aku juga belum punya usaha, rumah atau mobil. Emang gue pikirin. Yang penting dalam golden period yang takkan terulang, aku sudah memasukkan sesuatu. Untuk mendramatisir keadaan, agar seperti film India, aku dan istriku kerap memanggil si Sulung dengan panggilan Caprof alias calon profesor.

Kuberitakan kepadamu, Kawan. Tahun 2007, ketika Caprof kelas 3 SMP di Ngawi, dia sudah skul di 8 sekolah: 2 TK, 4 SD dan 2 SMP. Ruarr biasa bukan? Dia mempunyai catatan prestasi akademis yang memuaskan: pelajar teladan tingkat SD dan SMP se kabupaten Ngawi, meraih medali perunggu pada olimpiade matematika tingkat SD se Jawa Timur, mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) fisika tingkat SMP, juara LKIR se eks karesidenan Madiun, juara siswa berprestasi, juara mapel, cerdas cermat, dll.

Suatu saat, ketika membaca koran tentang perguruan tinggi dunia, Caprof berkata, “Abi, Caprof mau kuliah di Cambridge”.

Sambil lalu aku menjawab. “Cambridge is second class university, Prof. Why not at the first one: Harvard?”

Mendadak Caprof menukas, “Harvard khan di Amerika, sepakbolanya payah. Kalau Cambridge khan di Inggris, bisa nonton Mancester United!”.

Subhanallah. Sungguh aku amat surprised, Kawan. Ternyata memori yang kutanamkan di otak si Sulung ketika aku menjadi asper di Sukun Ponorogo, Perhutani KPH Madiun, masih diingatnya.

Awal tahun 2008, aku sowan ke rumah keluarga Ir H. Sadhardjo Siswamartono, MSc, penisunan Kepala SPI Perum Perhutani, di Yogyakarta. Beliau cerita, putri sulungnya sedang di Jerman. Ketika aku menimpali bahwa Caprof ingin kuliah di Cambridge, Bu Dhardjo langsung ngendikan, “Saya dukung, dik! Ikutkan saja homestay!”.

Ternyata aku katrok, Kawan, lebih katrok dari Thukul Empat Mata. Insinyur IPB dan Magister Pertanian UGM kok tidak tahu binatang homestay. Dari orang pintar di Perum Perhutani itu, aku baru tahu, homestay itu semacam study tour di Amerika, Canada, Eropa atau Australia, mengunjungi universitas ternama untuk belajar bahasa, budaya dan lain-lain selama liburan sekolah.

Sepulang dari Yogyakarta, langsung kutawari Caprof untuk ikut homestay. Dia mau. Di University of Cambridge. Ya, hanya di University of Cambridge. Aku pun ber-azzam, Caprof kuikutkan homestay pada liburan kenaikan kelas bulan Juli 2009. Tahukan engkau, Kawan, berapa biaya homestay? Sekitar USD 2,000 atau Rp 20 juta.

Kawan, bulan Juni 2008 Caprof lulus SMP 1 Ngawi. Dia ingin skul di SMA 1 Yogyakarta seperti yang dia idamkan sejak masih SD. Dia naksir program akselerasi sebagaimana sepupunya. Aku keberatan karena sedang tugas di Banyuwangi, yang berjarak dua belas jam perjalanan dari Yogyakarta. Tak terbayang repotnya harus mengurusi pernak pernik administrasi seleksi. Kalaupun diterima, aku tentu tidak mudah menengoknya, meskipun hari libur. Maka kutawar Caprof agar skul di Surabaya saja. Skul terbaik di sana, yaitu SMA 5. Alhamdulillah, dia mau.

Setelah Caprof mau skul di Surabaya, bukan berarti selesai persoalan. Masuk sekolah favorit sungguh amat sulit. Untuk siswa luar kota diberlakukan kuota lima prosen. Tidak itu saja. Masih ada pertimbangan lain: lebih memprioritaskan yang asal skul dari Surabaya dan yang calon siswa tersebut masuk daftar kartu keluarga (KK) Surabaya. Rasanya tak mungkin Caprof bisa masuk SMA 5 Surabaya via jalur reguler.

Kuingatkan kepadamu, Kawan, akan nasihat tetua kita. Jika ada kemauan, pasti ada jalan. Ternyata betul, jalan itu sungguh ada. SMA 5 Surabaya membuka program Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Ada 3 kelas dengan jumlah siswa 84 orang yang akan diterima. Kuota lima prosen siswa luar kota tetap berlaku. Alhamdulillah, Caprof mendapat rangking 31 dari 84 keseluruhan siswa, dan rangking 5 dari 5 siswa luar kota. Padahal 5% dari 84 adalah 4,2. Kalau saja pembulatannya ke bawah, tentu anakku tidak diterima. Subhanallah, alhamdulillah. Ruarr biasa. Tapi, ada yang lebih ruarr biasa dari itu, Kawan. Ternyata SMA 5 Surabaya menjalin kerja sama akademik dengan universitas di luar negeri. Dan, tahukan engkau? Universitas itu adalah University of Cambridge!!.

Sungguh, aku amat bersyukur. Belasan tahun silam, kutulisi anakku agar menjadi seorang profesor ahli teknologi tinggi yang kuliah di Jerman atau Inggris. Kemudian anakku mempunyai keinginan sendiri untuk kuliah di Cambridge, masuk SMA yang bekerja sama dengan University of Cambridge, dan, insya Allah, ikut homestay di sana.

Rasanya, mimpi itu sudah tidak jauh lagi. Kenyataan dari mimpiku itu sudah amat dekat, tinggal satu atau dua langkah saja. Aku jadi semakin yakin, Allah itu sesuai persangkaan hamba-Nya. Ana ‘inda zhanni ‘abdi. Maka, kadang muncul pikiran liarku untuk menambah keyakinanku. Aku mem-visualisasi-kan diri dengan membuat sms kepada beberapa kawan. “Asslkm. Kami mhn ijin pergi ke Cambridge, UK, tengok anak sulung yg skul dsana. Diijinkan or tdk, mhn maaf, kami akan ttp brgkt krn tiket Jkta-London PP sdh di tangan. Dumm, mhn maaf, trmksh (sms YA kpd Dir Phtani th 2013. He8x)”.

Aku ingin mengatakan kepadamu, Kawan. Anak itu dilahirkan dalam keadaan suci. Kita, orang tuanya, yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi. Anak ibarat kertas putih, maka jangan biarkan ia menulis sendiri. Nanti bisa penuh coretan. Tapi kitalah yang menulisinya: jenderal, menteri, direktur, pengusaha sukses, profesor, dokter, insinyur, psikolog, sehat, bugar, kaya, sejahtera, baik hati, santun, pemaaf, optimis, semangat, pintar, kreatif, umrah tiap tahun, ahli ilmu, ahli shadaqah, ahli ibadah, bakti kepada orang tua, dan jangan pernah lupa, masuk surga! Insya Allah, anak kita akan menjadi seperti yang kita mau. Ingat, Kawan, Allah itu sesuai persangkaan hamba-Nya

Kuberitahu satu rahasia lagi padamu, Kawan. Tentang mimpiku sekarang. Berjanjilah untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Dekatkan kepalamu, Kawan. ”Ssst… Aku ingin jadi Bupati…He8x”. ***

Yahya Amin

Administratur/Kepala Perum Perhutani Banyuwangi, donatur LMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: