SELAMAT ULTAH SEKAR (KU)

04birthdayMenelusuri alur sejarah lahirnya Serikat Karyawan (Sekar) Perum Perhutani menarik untuk diikuti. Bak mempratekkan salah satu alat dalam proses penilaian desa secara partisipatif atau lebih dikenal dengan sebutan PRA (Participatory Rural Appraisal). Masing-maing desa bahkan dusun obyek PRA pasti memiliki alur sejarah yang berbeda-beda. Pun sejarah lahirnya Sekar di masing-masing Unit dalam wilayah kerja Perum Perhutani, memang sangat beragam.

Embrio Sekar di Unit III Jabar dan Banten atau Federasi Sekar Janten lahir sejak tahun 2001 karena ”pemberontakan” karyawan terhadap tekanan eksternal Pemprop Jabar (Dishut Propinsi Jabar) yang mengusik eksistensi Perhutani atau ingin membubarkan Perhutani Jabar, juga menyikapi kebijakan Jatah Produksi Tebangan (JPT) dari regulator/Dephut, dengan lahirnya Deklarasi Situgunung pada Oktober 2003. Sekar di Unit II Jatim (Sekar Jati) dan Unit I Jateng (Serumpun Satu) lahir kemudian setelah melihat saudaranya di Jabar tengah berjuang menjaga dan mempertahankan eksistensi perusahaan. Ancaman terhadap eksistensi perusahaan oleh eksternal (LSM, pemerintah daerah, pemerhati lingkungan/kehutanan, dll) ketika itu, terlebih karena euphoria reformasi sangat kuat mengganggu keberadaaan dan keberlangsungan usaha Perhutani. Yang pasti, kendati latar belakang dan persoalan yang dihadapi ketika itu berbeda, namun setelah dilakukan pertemuan di Bandung Oktober 2003 semua mengerucut menjadi satu. Disepakati dibentuk Forum Komunikasi Sekar Perhutani dan akhirnya diputuskan bahwa Sekar Perhutani harus ada untuk menjaga dan mempertahankan eksistensi perusahaan serta memperjuangkan peningkatan kesejahteraan karyawan.

Melalui Mubes Sekar I di Bandung, Januari 2005, Sekar Perhutani secara formal hadir di tengah aktifitas karyawan dan kepengurusan perusahaan oleh manajemen. AD/ART sebagai pilar utama pendirian organisasi disyahkan keberadaannya. Fungsi dan tujuan Sekar secara tegas digariskan. Simbol dan lambang organisasi sebagai sarana pemersatu dan penjaga semangat perjuangan tak ketinggalan diwujudkan. Panji, logo dan bahkan Mars Sekar telah ditetapkan. Satu hal menjadi acuan Sekar dalam menjalankan aktifitasnya adalah sifat organisasi Sekar, yakni: bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Dua hal pokok yang menjadi perhatian pengurus dan anggotanya adalah demokratis dan tanggung jawab. Sedangkan satu hal paling penting dan sering kali menjadi debatable atau jadi fokus perhatian dan kritik pihak eksternal (pemerhati/pengamat, pengurus perusahaan/manajemen dan atau karyawan/organisasi karyawan lainnya, dll) adalah independensi/sifat kebebasan Sekar dalam melakukan aktifitasnya. Sudah independen kah aktifitas dan perjuangan Sekar selama ini?

Jawaban terhadap kesangsian itu, sesungguhnya secara legal formal telah tersedia dengan kehadiran PKB sebagai salah satu karya besar kemitraan Sekar dengan manajemen Perhutani. Melalui Mubes Sekar II di Madiun, Maret 2007, PKB telah ditandatangani oleh Ketum Sekar Perhutani dengan Dirut Perhutani. Lebih dari itu, keberanian, kemandirian dan dan independensi aktfitas dan perjuangan sekar dalam menjaga, mempertahankan dan upaya peningkatan kesejahteraan karyawan dan keluarganya dibuktikan lewat demokratisasi perundingan PKB antara tim perunding Sekar dengan manajemen . Justeru karena independensi yang bertanggung jawab, maka kehadiran PKB sebagai wujud kemitraan harmonis dalam membina hubungan industrial yang sehat antara karyawan dengan manajemen Perhutani harus dilakoni, bukan saja oleh Sekar namun juga oleh manajemen/BOD. Sesungguhnya, kalau kita mau jujur, independensi Sekar sering diperdebatkan ketika perjuangan dan kiprahnya menyentuh persoalan pembinaan SDM . Khususnya yang terkait dengan pola karir/mutasi/promosi sebagai wujud penghargaan terhadap pelaksanaan evaluasi kinerja yang memunculkan nuansa ”ketidakpuasan”, ketidakadilan atau bahkan diskriminasi. Atau sampai menyoal sensitifitas dan ”kekisruhan” bongkar pasang manajemen/BOD Perhutani. Yang jelas, kedua persoalan itu dipastikan sangat jauh dari tugas dan fungsi serta tujuan pendirian Sekar Perhutani.

Yakinlah para pembaca kami yang budiman, Sekar akan berupaya semaksimal mungkin menjaga independensi aktifitasnya dan perjuangannya demi eksistensi perusahaan dan kesejahteraan karyawan. Sumbangsaran, kritik dan kepercayaan dari segenap anggotanya dan stakeholder dipastikan akan semakin membesarkan dan mendewasakannya. Menghadirkan Sekar yang makin dibutuhkan, dicintai, disegani dan sekaligus menjadi kebanggaan bagi karyawan dan juga pengurus perusahaan. Di usianya yang keempat, semoga Sekar semakin menjadi organisasi perserikatan karyawan yang lebih bersinar untuk menerangi rimba raya yang gelap gulita. Sebagaimana cita-cita para pendiri, tokoh, pengurus , aktifis dan kader Sekar yang telah dengan susah payah melahirkan, membina dan membimbing serta mendewasakan dan menjadikan Sekar terus berkiprah hingga kini. Sekar harus mampu menyinkronkan sekaligus menyelaraskan tiga prinsip dasar dalam bermitra dengan manajemen: keberanian, loyalitas (dan integritas) serta rasionalitas.

Selamat Ultah Sekar (ku). Dharma bakti terbaikmu selalu ditunggu demi eksistensi perusahaan dan bagi perbaikan nasib karyawan kini, kelak dan selanjutnya. Menjunjung tinggi komitmen dan berkeyakinan, bahwa Sekar Harus Ada. Karena keberadaaanya bisa dirasakan. Kerjasamanya harus ada. Hasil kerjanya harus terasa. Manajemen harus ada. Pastikan, perusahaan harus (tetap) ada, dan Sekar harus (selalu) ada dan berada!! Selamat berjuang!!! Tetap semangat dan tetap komit!!!!

Redaksi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: