MEMBANGUN DAN MENGGELORAKAN SEMANGAT DAN KOMITMEN PERUBAHAN DI UNIT III MENYOSONG PENERAPAN MANAJEMEN SBU

Perum Perhutani Unit III sebagai salah satu wilayah kerja Perhutani, dalam rangka membenahi pengelolaan keuangan perusahaan, sejak 2006 telah mulai membangun dan menerapkan kaidah-kaidah manajemen korporasi yang sehat, antara lain dengan lima hal kebijakan pokok.

Pertama, membangun, menyepakati dan menggelorakan komitmen dan semangat perubahan yang dilandasi oleh perubahan “pola pikir” dan “delapan pola sikap”. Pola pikir sebagai implementasi visi dan misi Perhutani itu adalah: “Terwujudanya Unit III yang mandiri keuangan dengan kondisi hutan yang lebih produktif, bermutu dan bemilai, baik dari segi ekologi, ekonomi maupun sosial dengan kondisi keamanan hutan yang lebih mantap yang dibangun dengan sistem PHBM”. Sedangkan delapan perubahan pola sikap adalah:

  1. sadar dan paham bahwa Perum Perhutani Unit III mencapai mandiri atas jerih payah karyawannya sendiri,
  2. kepedulian dan kedisiplinan yang tinggi serta suka bekerja keras,
  3. kuat komitmennya, konsisten dan konsekuan,
  4. mindset business/kewirausahaan,
  5. komunikatif, koordinatif dan berupaya membangun team work terpadu,
  6. kreatif, inovatif dan antisipatif ke depan dengan mau mawas diri dan mau belajar terus menerus,
  7. mampu dan cepat mengambil keputusan beradasarkan analisa data/fakta yang akurat dengan memahami/menguasai peraturanl ketentuan yang berlaku serta
  8. ikhlas karena bekerja yang benar/baik semata-mata merupakan ibadah. Pola pikir dan pola sikap itu harus disadari/dipahami dan hams menjadi “perilaku kedinasan” sehari-hari semua jajaran Perum Perhutani Unit III dengan tetap memelihara dan meningkatkan suasana kodusif dan kompak/terpadu.

Kedua, menyusun rencana strategis korporasi berupa Rencana Jangka Panjang / Rencana Kerja Lima tahun jangka 2007 – 2011 tingkat KPH/KBM maupun Unit III serta rencana-rencana strategis lainnya sekaligus mengawal dan mengembangkan usaha terutama pada KPH/KBM yang menjadi andalan Unit III s/d tahun 2011.

Ketiga, berupaya melakukan mutasi/promosi dengan prinsip “the right man on the right place” berdasarkan suatu sistem penilaian kinerja. yang telah disepakati (mulai dari KRPH, Asper/KBKPH, Wakil Adm/KSKPH, Kasi PSDH, Kasi kantor Unit, KSPH, Adm/KKPH, Manager dan General Manager). Juga termasuk mengirimkan secara bertahap para pejabat untuk mengikuti pendidikanlkursus di sekolah bisnis Prasetia Mulia, tentang bisnis dan manajerial.

Keempat, menyusun berbagai petunjuk pelaksanaan mulai dari redesign kelas perusahaan, pembuatan tanaman s/d industri dan pemasarannya sekaligus meningkatkan upaya monitoring, evaluasi dan pengendalian secara dini dan juga upaya-upaya efisiensi.

Kelima, membangun jaringan kerjasama usaha dengan berbagai pihak/investor terutama dalam rangka peningkatan pendapatan dari non kayu (khususnya dalam rangka kerja sama reklamasi dan rehabilitasi hutan, jasa lingkungan dan optimaslisasi asset. Dengan demikian diharapkan setahap demi setahap para pengusaha/investor menganggap Unit III sebagai laba atau peluang usaha yang prospektif untuk berbisnis.

Melalui semangat juang dan komitmen yang tinggi, pikiran dan langkab yang lebih fokus serta bekerja keras tanpa henti-hentinya dari segenap jajaran Perum Perhutani Unit III yang tentunya juga di-support/didukung segenap anggota BOD, dalam waktu yang relatif cepat bisa diperoleh hasil yang cukup menggembirakan.

Beberapa hasilnya, antara lain: (1) Cash flow dapat dikendalikan, sehingga mulai November 2006 Unit III sudah mampu membiayai dirinya sendiri (dan tidak dianggap sebagai “parasit oleh Unit lain), tidak pernah minta uang ke Direksi lagi. baik ootuk operational cost maupun fixed cost (termasuk ootuk premi produksi dan THR-nya). Hal ini terjadi untuk pertama kalinya sejak lebih kurang 28 tahun, (2) Sesuai dengan RKL RJP 2007 – 2011 yang telah disusun, maka mulai tahun 2008 laba sebelum pajak, Perum Perhutani Unit III PLUS lebih kurang 39 Milyar, pertama kali dalam kurun waktu 30 tabun sejak jadi Perum.

Sebagai gambaran tahun 2008, kondisi s/dAgustus 2008, laba sebelum pajak mencapai plus Rp 95,779 Milyar, sedangkan s/d Agustus 200″‘ masih minus. Realisasi pendapatan perusahaan adalab: tahun 2005, realisasi Rp 201,357 M (termasuk dari non kayu senilai Rp 45,091 M). Tahun 2006: pendapatan Rp 245.535 M (termasuk dari non kayu Rp 50,650 M). Tahun 2007 pendapatan tercapai Rp 418,660 M (termasuk dari non kayu Rp 106.177 M) dan tahun 2008 pendapatan diharapkan tercapai Rp 490 M (dari non kayu diharapkan tercapai Rp 115 M). Khusus pendapatan non kayu, pencapaian pendapatan tahun 2008 lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2006. Pada tahun-tahun mendatang pendapatan perusahaan dari sektor non kayu akan semakin ditingkatkan, antara lain tahun 2009 dari usaha pemanfaatan air (di luar AMDK) diharapkan lebih dari Rp 4,5 M dan mulai dibangunnya wisata alam / wana wisata bertaraf intemasionaI.

Dalam rangka menciptakan kinerja yang optimal sesuai prinsi~prinsip PHL (sinkronisasi dan keberlanjutan manfaat dari kelola produksi, ekologi dan kelola sosial), maupun upaya peningkatan kesejahteraan karyawan , tentu saja masih banyak tantangan dan hambatan yang perlu diatasi secara bersama-sama. . Salah satu langkah yang tengab berproses (pembahasan di tingkat Direksi dan Menhut) adalah penyusunan Draft Pengelolaan Hutan Lindung di wilayah kerja Perum Perhutani. Kebijakan itu nantinya akan dikeluarkan dalam bentuk Permenhut, sehingga akan lebih memberi jaminan legalitas, ruang dan peluang serta kreatifitas terhadap aktifitas pengelolaan hutan lindung yang ada di Jabar dan Banten yang bermuara pada upaya peningkatan pendapatan perusahaan dari sektor non kayu (budi daya di hutan lindung, pemanfaatan kawasan, wisata alam dan jasa lingkungan).

Tentu saja secara bersama-sama, antara manajemen, karyawan dan Sekar sebagai mitra manajemen di Unit III terus menerus membangun / memelihara kekompakan dan suasana kondusif, baik internal maupun dengan pihak eksternal, hidup “sauyunan”, silih asah, silih asuh dalam kerangka menerapkan manajemen yang sehat. Tujuan pendirian Sekar untuk menjaga eksistensi perusahaan dan peningkatan kesejahteraan karyawan dengan sendirinya akan lebih mudah “diperjuangkan” jika “kemandirian keuangan” dapat dicapai. Suasana kondusif, kekompakan terus tetap dibangun, dipelihara dan diperbaiki dalam kerangka penerapan manajemen korporasi yang sehat menuju sistem manajemen SBU yang dicanangkan Direksi mulai tahun 2009.

Khusus kepada segenap anggota Sekar (dan pasti sebagai karyawan Perhutani), ada baiknya kita merenungkan dan selanjutnya bekerja keras untuk melaksanakan pesan Meneg BUMN kepada jajaran BOD Perhutani, Juli 2005. Kendati kita bukan pengurus perusahaan, tetapi Sekar memang hams mampu menjadi mitra manajemen. Sebagai bukti tanggung jawab menjadi karyawan Perhutani, maka sudah sewajibnya kita sebagai bagian dari tubuh Perhutani melaksanakan amanah pemilik modal kepada BOD kita. Pesan itu selengkapnya adalah: peduli terhadap “problem statement” perusahaan. tidak menjalankan “business as usual”, tidak berhenti berinovasi. meningkatkan tanggungjawab (responsibility) terhadap Tuhan. bangsa dan negara (melalui Perhutani) serta “membumikan gagasan dalam tindakan/kerja nyata. Semoga ! (Diolah dan disarikan dari “pidato Kanit III saat acara Halal bihalal Idul Fitri 1429 H, Bandung 6 Oktober 2008 serta dari berbagai sumber (ESBEWE 2008).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: