BADAI PASTI BERLALU [Sebuah Refleksi Demokratisasi di Mata Karyawan Kecil]

Oleh : YUYUS SUPRIYADI (Karyawan SPH III Bandung)

Ketika proses demokratisasi merambah ke tubuh BUMN seperti Perum Perhutani, harapan besar terhadap kejayaan perusahaan terbentang lebar. Kejayaan perusahaan tentunya akan berbanding lurus dengan kesejahteraan yang menjadi harapan semua level karyawan Perum Perhutani.

Saking semangatnya berdemokrasi, hiruk pikuknya sampai menggetarkan dunia maya dan meluluhlantakan budaya “adiluhur” warisan pendahulu kita.  Luarrrr biasa!! Yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin, yang tadinya tabu menjadi boleh tahu.  Memang wind of change tidak mungkin terbendung lagi karena merupakan suatu keharusan dan yang menentang pasti terlindas oleh roda jaman yang terus berputar.

Masalahnya manakala semangat demokrasi meningkatkan namun saluran demokrasi dinilai sudah tersumbat, maka sudah bukan rahasia lagi akan muncul kendaraan baru yang mempunyai visi dan misi yang lebih baik menurut pengusungnya.  Hal ini terbukti dengan munculnya SP2 PHT yang lahir dari kekecewaan terhadap Sekar.  Kondisi ini mengingatkan kita pada dunia politik, ada PAN dengan PMB, ada PKB dan PKNU, ada Golkar dengan Hanura dan Gerindra, ada PDIP dengan PDP dan lain-lain.

Ataukah kita senang memelihara dan tetap membentuk opini dikotomi?  Sarjana dengan non Sarjana, kehutanan dengan non kehutanan, hijau dan merah putih, bahkan Perhutani asli dengan tidak asli dan lain-lain.  Masing-masing mendeklarasikan paling terbaik padahal ujung-ujungnya mempunyai misi yang sama yaitu kejayaan dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Sayangnya Perhutani bukan organisasi politik atau lembaga politik? ia adalah entitas bisnis pengelolaan Sumber Daya Alam ( SDH dan ekosistemnya ). Politik organisasi Yes, “Office polticing” wajar. Politisasi? Tunggu dulu!!

Memang perbedaan itu indah. Tetapi perpedaan yang melawan hukum alam dan “kearifian lokal” boleh jadi bukan sesuatu yang menguntungkan, bahkan cenderung banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Contohnya pelangi itu memang indah, berwama-wami . Tapi dia akan tunduk pada degaradasi wama secara alami: Me-ji-ku-hi-bi-ni-u, bukan menjadi ni-ku-me-ji-hi-bi-u atau ni-ku-u-bi-me-hi-ji… dan sebagainya.

Yang jelas, susunan degradasi wama itu memang indah , hingga sedap, enak dan nyaman dipandang dan dinikmati. Pertanyaannya perlukah hal itu terjadi? Tidak bisakah diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat? Sampai kapan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang akan terlontar dari semua orang.

Menarik untuk disimak, tulisan Susilo BW tentang “Antara Rencana dan Selera” (Duta Rimba Juni 2007). Dalam salah satu paragrafnya disampaikan pertanyaan sebagai berikut “Sanggupkah kita menerapkan apa yang sudah menjadi komitmen dan pijakan bersama untuk membesarkan Perhutani tercinta?”

Selanjutnyapertanyaan tersebutdijawab yang merupakan janji dan cita-cita luhur “Tentu saja kita tak ingin mengingkari janji bersama yang bersumber pada kebulatan tekad dan keluhuran budi untuk menjadikan Perhutani sebagai pengelola hutan tropis terbaik di dunia. Yang lebih penting adalah memberikan suasana nyaman, tenang dan konsusif bagi semua karyawannya untuk berkarya, mengabdi dan mencari natkah. Memberikan yang terbaik untuk kebanggaan dan kejayaan Perhutani. .

Cita-cita, janji, harapan atau komitmen seperti diatas dengan kondisi yang berkembang, rasanya berat untuk dicapai bahkan secara ekstrim bisa makin jauh atau hanya sebatas retorika. Sapu lidi akan berfungsi dengan baik apabila diikat dengan erat dan digunakan dengan baik.

Bahkan sebuah rumah akan tetap kokoh dan enak untuk didiami bila ditopang dengan tiang dan pondasi yang kuat, dicat dengan wama yang sesuai, dan didekorasi dengan baik. Sangatlah bijak apabila kita berdemokrasi dalamkerangkamembangun persamaan dan bukan memperlebar jurang perbedaan dengan berprinsip pada hukum kesetimbangan/keseimbangan atau tercapainya equilibrium/equal yang tersistem dengan menerapkan demokratisasi yang sehat dan prinsip-prinsip GCG, sehingga jangan sampai tragedi 2001, 2005, dan 2008 terulang lagi. Atau akankah terjangan badai tetap tidak mau berlalu dan akan terjadi tragedi – tragedi lainnya.

Ah.. . memang “Badai itu memang belum juga berlalu??!!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: