MERAJUT KOMITMEN YANG (NYARIS) TERKOYAK

Komitmen memang seakan menjadi sebuah obat yang memiliki khasiat “serba”. Serba mujarab, serba instant dan serba/multi guna, atau berisi multivitamin. la diharapkan mampu menjadi sebuah pintu misterius untuk menembus ke lorong solusi dan diyakini memberikan supermotivasi dan prakondisi yang ideal bagi kesuksesan pelaksanaan tugas. Pekerja dan pemimpin tanpa komitmen telah divonis khalayak menjadi biang kehancuran dan bahkan jaminan kegagalan proses pencapaian kinerja terbaik sesuai sasaran perusahaan. Begitu besarkah harapan yang disandarkan kepada komitmen?

Payah, sekarang ini bos kita, sudah tak ada komitmennya untuk kepentingan perusahaan dan karyawan,” gerutu Pak Rajin, sebagai salah seorang peserta rapat di sebuah unit kerja operasional. Temyata hanya gara-gara sang bos sangat telat dan bahkan seakan tak peduli untuk hadir di sebuah acara maha penting, karena menyangkut pendapatan perusahaaan dan (tentunya sangat terkait dengan) kesejahteraan karyawan, sehingga sampai rapat bubar tidak ada keputusan yang diambil oleh manajemen operasiona!. Menurut Pak Rajin, ia menyimpulkan bosnya tidak punya komitmen.

Tidak jarang kesimpulan sebuah rapat/seminar/diskusi, dan lain-lain, khususnya yang menyangkut pengerahan sumber daya rnanusia yang sangat banyak, pencapaian kinerja maksimal, tercetus sebuah kalimat maha sakti. “Diperlukan komitmen agar kita mencapai hasil maksimal”, “berhasil tidaknya program kita ini semua sangat bergantung pada komitmen pelaksana dan pimpinan dan sebagainya. Benarkah?

Layaknya sebuah iman dan keyakinan terhadap ajaran agama atau pun dogma. komitmen setiap individu dalam organisasi perusahaan berfluktuasi dan berjalan dinamis. Pasang surut kadar kommnen pasti terjadi. Apa yang terjadi di Perhutani dewasa ini boleh Jadi merupakan pembenaran hipotesa itu. Sampai-sampai Direksi melakukan serangkaian acara untuk menguatkan komitmen para karyawan dan sekaligus pimpinannya. Akhimya Komitmen Madiun, tercipta, 15 Agustus 2008. Sebuah tuntunan , kepatuhan dan “kepasrahan diri” untuk mengikatkan diri dalam penyatuan pola pikir, tindakan dan langkah, seia sekata menuju tujuan bersama. kejayaan Perhutani. Begitu gampangkah komitmen dibangunldibentuk, dirajut bersama dan besoknya telah dengan begitu gampang dilupakan tanpa adanya evaluasi terhadap “kadar” komitmen?

Komitmen merupakan ikatan psikologis karyawan pada organisasi yang ditandai dengan kepercayaan dan penerimaan yang kuat atas tujuan dan nilai¬nilai organisasi, kemauan untuk melakukan usaha secara sungguh-sungguh, memberikan yang terbaik demi tercapainya kepentingan organisasi, dan keinginan kuat untuk mempertahankan kedudukan sebagai anggota organisasi.

Belum tuntas menjawab pertanyaan di atas, muncul pertanyaan lain dari salah seorang karyawan. “Kenapa ya pak, sekarang ini Perhutani “kok” ribut terus”? Keputusan Direksi tidak dipatuhi oleh karyawannya. Mereka sudah tidak mau tunduk dan loyal terhadap pemimpinnya, terutama yang terkait pembinaan SDM. Karyawan menjadi tidak kompak, saling tuding antar sesama, kebiasaan demonstrasi mucul lagi, tidak puas terhadap mutasi dan atau promosi, dan sebagainya. Sudah demikian parahkan integritas, loyalitas kita terhadap (pemimpin dan kebijakan) perusahaan?

Benarkah mereka sudah tidak mau kompak satu sama lain? Ataukah ada “sesuatu” alasan yang menjadikan karyawan merasa tidak bersalah atau enjoy saja ketika tidak mematuhi perintah dan keputusan atasannya? Dengan gampang karyawan menyatakan bahwa bos kita telah mencederai komitmen yang disepakati bersama. Benarkah seperti itu kondisi dan fakta sebenamya? Butuh penelusuran mendalam dan mengkaji dari segala aspek untuk memberi penjelasan yang menyeluruh dan menyentuh akar masalahnya.

Dalam beberapa literatur manajemen, komitmen dijelaskan sebagai ikatan psikologis karyawan pada organisasi yang ditandai dengan tiga hal. Pertama, kepercayaan dan penerimaan yang kuat atas tujuan dan nilai-nilai organisasi. Kedua, kemauan untuk melakukan usaha secara sungguh-sungguh (bekerja keras), memberikan yang terbaik demi tercapainya kepentingan organisasi. Ketiga, keinginan yang kuat untuk mempertahankan kedudukan sebagai anggota organisasi. Jadi sesungguhnya komitmen sepenuhnya merupakan pilihan individu dan dipengaruhi banyak hal.

Yang penting, komitmen pimpinan perusahaanlah (termasuk pimpinan setiap unit kerja) yang akan melapangkan jalan para karyawannya menuju perubahan ke arah lebih baik. Berdasar pada kenyataan dinamika organisasi Perhutani akhir-akhir ini, boleh jadi klop dengan teori itu. Pemimpin unit kerja mana pun akan dengan mudah membelokkan dan bahkan “menggembosi” kadar komitmen karyawan para pengikutnya untuk dimanfaatkan sesuai kepentingan “bosnya”. Bahkan mereka tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga partisipasinya dalam memperjuangkan aspirasi “bosnya” hanyalah wujud dan implementasi hirarkhi struktural semata yang sangat terbatas pada sekat-sekat unit kerja masing-masing. Yang pasti , sangat jauh dari tujuan dan nilai-nilai sebuah organisasi secara utuh atau pencapaian visi dan misi organisasi.

Untuk introspeksi diri dan perenungan bersama, mari kita simak sebuah SMS yang diterima Redaksi Mahoni dari seseorang karyawan Perhutani (pelaksana di lapangan). Kepada Yth : Para Pemimpin Perhutani. Kami sangat prihatin dengan kondisi seperti sekarang ini, kalau boleh meminta, kami ingin ketenangan dalam bekerja, kami ingin kesejahteraan kami meningkat, kami ingin Perhutani lebih baik, kami ingin kebersamaan, kami mendambakan kekompakan dan TOLONG KAMI JANGAN DIJADIKAN ALAT UNTUK KEPENTINGAN JABATAN PIMPINAN, KELOMPOK ATAU GOLONGAN. SALAM KOMPAK!!

Sebuah permohonan tulus dan manisfestasi panggilan “berkurban”, karena melakukan aktifitas dengan ikhlas untuk kepentingan bersama, kepentingan perusahaan, bukan semangat dan panggilan “berkorban”, melakukan aktifitas karena parnrih. Atau sudah demikian kaku dan matikah logika kita tanpa merespon gejolak batin para pekerja di lapangan yang tidak tahu menahu dengan persoalan di luar urusan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pekerja pelaksana? Komitrnen mereka kepada perusahan tak usah diuji dan diragukan lagi. Tegakah kita menjadikan mereka sebagai korban dari sebuah jawaban semangat dan panggilan “pengorbanan” yang digelorakan oleh siapa saja dengan mengatasnamakan “pengurbanan”. Ada baiknya, kita menengok kata-kata bijak Maya Angelo: Jika Anda tidak menyukai sesuatu, ubahlah. Jika anda tidak bisa mengubahnya, ubahlah sikap anda. Jangan protes. Komitrnen:  “No TIme to Talk, Now, Time to Act. “Satu ons praktek lebih berharga dari pada satu ton teori”!!

Hilangnya ketulusan dan dimensi vertikal dalam praktik pengorbanan hanya akan menciptakan dunia kanibalisme, dimana manusia tega memangsa manusia yang lain (homo homini lupus).  Hal ini terjadi karena pengorbanan tersebut dilakukan tiada lain demi memenuhi hasrat ego dan keserakahan sasaat tanpa batas. Pengurbanan tulus menumbuhkan sensibilitas sosial, sementara pengorbanan pamrih selalu minta pamrih lebih besar sekalipun, demi meraih itu semua tega mengorbankan semuanya.

Mumpung masih dalam suasana hari raya Idul Adha 1429 H, sangatlah bijak kita merespon peringatan dan hakekat semangat berkurban berdimensi keegoan sebagaimana yang dilontarkan oleh Yususf Burhanudin. (pikiran Rakyat, 6 Desember 2008). Hilangnya ketulusan dan dimensi vertikal dalam praktik pengorbanan hanya akan menciptakan duniakanibalisme, dimana manusia tega memangsa manusia yang lain (homo homini lupus). Ha! ini terjadi karena pengorbanan tersebut dilakukan tiada lain demi memenuhi hasrat ego dan k~serakahan sasaat tanpa batas. Pengurbanan tulus menumbuhkan sensibilitas sosial, sementara pengorbanan pamrih selalu minta pamrih lebih besar sekalipun, demi meraih itu semua tega mengorbankan semuanya.

Jangan sampai krisis “pengurbanan” melanda kita. Yang terjadi , para pemimpin tidak menjadi teladan dan pelayan bagi para pengikutnya, membelokkan bahkan membohongi kepercayaan para pengikutnya demi memenuhi ambisi kekuasan dan jabatan diri sendiri dan kelompok masing-masing dan golongan tertentu. “Pengorbanan” para pemimpin yang diteriakkan saat mereka merasa terusik ambisi kekuasannya atau terganggu kepentingannya , ternyata tidak menjadi “kurban” bagi kepentingan perusahaan. Pengorbanan atas nama komitmen, keadilan, diskriminasi, keseimbangan atau apa pun namanya, justeru demi ambisi yang lebih besar. Akibatnya demi ambisi kuasa, setiap mereka menghalalkan segala cara sekalipun hams berseteru dan saling “berperang” dengan sesama dalam satu keluarga besar. Pasti para prajurit dan punggawa rimba raya tempat kita bekerja sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.

Sesungguhnya ada hal yang lebih penting dan pekerjaan maha besar yang membutuhkan komitmen agar mencapai sukses. Sebut saja pencapaian target RKAP 2008 di tengah dampak krisis keuangan global yang melanda negeri ini. Penjelasan Direktur Keuangan pada saat pengurus Sekar melakukan audiensi dengan BOD (04/12/2008) boleh menjadi perhatian kita. Estimasi pendapatan s/d 31 Desember 2008 tercapai hanya 94 % (Rp 2,384 T dari Rp 2,443T). Laba sebelum pajak bisa dicapai seuai RKAP yakni sebesar Rp 136,502 M, dengan catatan estimasi pengeluaran juga tercapai “harus” 94 % atau Rp 2,241 T. Sungguh merupakan pekerjaan maha berat,. jika perusahaan kita tetap ingin eksis dan peningkatan kesejahteraan karyawan dan keluarganya bisa dipenuhi. Setiap karyawan di bawah keteladanan pemimpinnya wajib bersedia untuk “dikerahkan” dan siap bertanggung jawab terhadap beban tugas dan ikut meng-“handle” segala persoalan yang hams diselesaikan dalam mengemban tugas demi kesuksesan kerja yang telah ditetapkan. Agar RKAP tercapai beberapa hal yang hams dilakukan adalah: diketatkan upaya penghematan di bulan Desember 2008, dimaksimalkan upaya peningkatan penghasilan dengan tetap mengendalikan pengeluaran/ biaya. Jika biaya tidak berhasil dikendalikan, maka perusahaan akan mengalami kerugian.

Prospek bisnis Perhutani tahun 2009 juga banyak dipengaruhi kondisi akhir tahun 2008 sebagai dampak krisis keuangan global sebagaimana yang dijelaskan oleh Direktur Industri dan Pemasaran saat pengurus Sekar melakukan audiensi dengan BOD.  Beberapa persoalan bisnis akhir tahun 2008 yang tentu saja akan sangat berpengaruh pada prospek bisnis tahun 2009 antara lain : seluruh asosiasi perkayuan menuntut Perhutani untuk menurunkan harga Bahan Baku Kayu Bundar (BBKB), mitra KSP mengalami penundaan atau pembatalan order dari pembeli, penundaan ekspor oleh para agen dan non agen terutama untuk produk gondorukem dan terpentin yang mengalami kesulitan akibat pembatalan atau penundaan order dari pembeli mereka. Dan yang paling “parah” adalah semua buyer (agen, non-agen maupun dalam negeri) meminta penurunan harga baik kayu maupun non-kayu di awal 2009. Belum lagi persoalan penumpukan stok beberapa produk kayu dan non kayu, tidak tercapainya rencana penghasilan karena produk yang dijual tidak sesuai rencana, juga mengakibatkan penurunan kualita / penurunan nilai komoditi.

Diperlukan komitmen dari setiap insan yang bekerja dan mencari nafkah di Perhutani agar perusahaan tetap tegak berdiri dan memberikan kinerja terbaik sesuai harapan stake holder dan shareholder.

Memang secara umum prospek penurunan kinerja pemasaran produk industri Perhutani diestimasi “hanya” sekitar 10 % , tetapi paling tidak harus menyadarkan kita bersama bahwa persoalan Perhutani bukan sebatas pada pembinaan SDM/pembinaan pola karir semata, apalagi “hanya” fokus dan berdebat pada pergolakan mutasi, promosi, dan sebagainya. Diperlukan komitmen dari setiap insan yang bekerja dan mencari natkah di Perhutani agar perusahaan tetap tegak berdiri dan memberikan kinerja terbaik sesuai harapan stakeholder dan shareholder, khususnya persoalan peningkatan kesejahteraan karyawan yang merupakan salah satu tugas penting dari pemilik modal / kementrian negara BUMN kepada BOD. (baca juga wawancara dengan Direktur Industri dan Pemasaran tentang Dampak Krisis Keuangan Global Terhadap Bisnis Perhutani)

Akhirnya memang diperlukan keberanian diri untuk menembus batas-batas kemajemukan dan keangkuhan keegoan, egoistis atau  egosentris. Diperlukan keberanian untuk merubah haluan perilaku keegoan dari egocentripetal (gerakan aku yang berputar dari luar ke dalam, aktifitas dan kehadiran orang lain harus untuk aku) menjadi “egocentrifugal” (gerakan aku yang berputar dari dalam ke luar, kehadiran aktifitas aku memang untuk orang lain). Ada kata-kata orang bijak yang boleh kita renungkan :   Ada perbedaan antara orang yang melakukan sesuatu karena tertarik dan karena komitmen. Ketika anda hanya tertarik, anda hanya akan melakukan sesuatu, ketika keadaannya memenyenagkan / menguntungkan. Sementara jika anda sudah memiliki komitmen, anda tidak membedakan keadaan apa pun, kecuali hasil akhir . Dan yang pasti janganlah memuji dirimu sendiri, biarlah orang lain yang melakukan hal itu, bahkan orang lain yang tidak kau kenal.

Berkomitmen sangat gampang, sernudah membalik telapak tangan. Tapi Implementasi komitmen menuntut semangat dan panggilan “berkurban” dan tanggung jawab dari pimpinan dan pengikutnya.

Sebagaimana dijelaskan Komarudin Hidayat (Kompas, 7 Desember 2008) bahwa untuk meraih pembebasan diri (self liberation) dan derajat kemuliaan, bukan malah berebut kekuasaan guna memenuhi tuntutan bermegah diri (self glory) yang menyebabkan manusia berusaha dengan cara apa pun, meski harus membayar mahal, bahkan kalau perlu “perang” dan membinasakan yang lain, seseorang harns berani menekan egonya serendah mungkin sampai ke titik nadir. Muara panggilan berkurban untuk bangsa adalah bagaimana menyejahterakan rakyat, lihat komitmen mereka (politisi dan pejabat negara) dalam berkurban untuk kepentingan bangsa dan masyarakat

Seperti diungkap Plt Dirut dan Ketua Dewas kepada pengurus Sekar saat audiensi di Jakarta (4/12/2008), bahwa mereka telah benar-benar berupaya penuh menjalankan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam men gurus dan mengawasi jalannya pengelolaan Perhutani. Prinsip Transparancy, Accountability, Responsibility, Integrity, dan Fairness (TAR/F) telah diintegrasikan ke dalam segenap sistem, terutama pembinaan SDM dan khususnya menyangkut promosilmutasi pejabat. Memang diimplementasikannya sistem sebagai sebuah hal yang terukur bagi demokratisasi penciptaan kebijakan, tetap saja berpeluang tak mampu memberikan kepuasan (mutlak) bagi segenap karyawan. Apalagi keputusan yang diambil tidak seperti “biasanya” dan berada di luar sesuatu yang “biasa” terjadi. Bahkan hasil keputusan yang diambil tidak “familiar” atau dianggap kontroversi bahkan cenderung bertentangan dengan asumsi dan hipotesa umum karyawan.

Ketika demokratisasi penciptaan kebijakan telah diterapkan, maka menjadi tugas bagi segenap karyawan untuk tunduk dan menjalankan kebijakan perusahaan lewat keputusan yang telah dikeluarkan oleh pemimpinnya. Monitoring dan evaluasi terhadap implementasi sistem yang tengah dijalankan sangat diperlukan, sehingga pengendalian untuk perbaikan sistem bisa dilakukan terus menerus, hingga akhimya sistem yang diterapkan telah benar-benar teruji serta berdayaguna dan berhasil guna.

Percayalah para pemimpin Perhutani, dimana pun saat ini tuan dan nyonya berada dan apa pun wewenang dan peran yang tuan dan nyonya punyai, keinginan pak Rajin dan kawan-kawan itu merupakan ungkapan dari lubuk hati paling dalam dan manifestasi keprihatinannya dengan sikon Perhutani terkini. Memang, berkomitmen sangat gampang, semudah membalik telapak tangan. Tapi implementasi komitmen menuntut semangat dan panggilan “berkurban” dan tanggung jawab dari para pimpinan dan pengikutnya. Mari kita merajut kembali komitmen yang (nyaris) terkoyak. Sesulit dan serumit apa pun persoalan yang dihadapi tidak menjadikan kita harns kehilangan moril dalam kebersamaan. Satukan jiwa dan nurani dalam kefitrian. dengan panggilan “berkurban” untuk sebesar-besamya menjaga eksistensi Perhutani dan peningkatan kesejahteraan karyawan (dan keluarganya).

Dengan semangat dan panggilan “pengurbanan”, semoga kita menjadi lebih dekat dan cinta dengan eksistensi perusahaan (kesehatan dan pendapatan perusahaan, kelestarian usaha dll) dan kepentingan karyawan kita yang nasibnya belum sebaik dan sesejahtera yang kita cita-citakan (peningkatan status kpegawaian, peningkatan gaji/insentif/tunjangan, tunjangan hari tua, jaminan kesehatan, dll).

Para prajurit sang resi maha taman sangat mendambakan “kemanfaatan” rimba raya, kedamaian, kebersamaan dan kekompakan menuju kejayaan Perhutani. Cita-citanya sangat sederhana dan mulia. Perusahaan tempat mereka bekerja, berkarya, dan mencari natkah tetap tegak berdiri dan sehat, sehingga kesejahteraan mereka dan keluarganya meningkat. Yang jelas mereka tidak mau, jika esok pagi ketika bangun dari tidumya, setelah meninabobokkan anak dan cucunya, tatkala sang surya hadir menyinari maha taman tempat mereka bekerja dan mencari nafkah, mereka tak mampu memberi jawaban atas pertanyaan anak cucunya. Pak, Mbah, “Binatang” apakah itu Perhutani? Sembari mengusap tetesan air matanya, mereka diam seribu bahasa. Karena temyata Perhutani sudah almarhum tanpa tahu dimana jejak dan apa sepak terjangnya!!

Marilah berlomba-lomba memberikan karya terbaik dalam nuansa kebersamaan (dedicated to exellence on solidarty). Kita harus berani bangkit melakukan perubahan itu, dari mana pun anda berada dan pada posisi apa pun anda sekarang ini. Mau? Semoga!! (ESBEWE 2008)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: