KOMITMEN MADIUN

Melalui perdebatan demokratis, akhirnya sebuah komitmen tercipta. Komitmen segenap manajemen dan karyawan Perhutani itu disepakati dan ditandatangani bersama-sama. Acara di penghujung workshop “Pembahasan RJP 2008 s/d 2012 dan Permasalahan SDM Perhutani” yang dilaksanaakan di Pusdiklat SDM Madiun, 14-15 Agustus 2008 lalu menjadi sangat bermakna di saat organisasi mulai tak efektif lagi yang ditandai kekompakan di antara karyawan mulai luntur.

Komitmen Madiun itu berisi kesepakatan dari segenap manajemen dan karyawan Perhutani – yang saat itu terwakili oleh peserta workshop- untuk senantiasa bersungguh-sungguh, seia sekata, sejalan sehaluan dalam kebersamaan untuk mewujudkan kejayaan Perhutani. Cukupkah sampai di sini?

Terlalu sering kita mendengar “semua tergantung komitmen manajemen”. Atau “yang paling penting adalah komitmen perusahaan”. Benarkah demikian? Apa yang teljadi di Perhutani akhir-akhir ini bisa menjadi pelajaran berharga dan semoga bisa memberikan sebuah jawaban.

Tanda bahwa sebuah organisasi sudah mulai tidak efektif adalah kalau karyawannya sudah tidak lagi ingin kompak satu sama lain. Memang para karayawan tidak sampai saling memukul dan menghantam baik dari muka maupun belakang, tidak saling menghina atau pun tidak menyatakan secara terbuka tidak percaya satu sama lain. Secara kasat mata, hubungan inter personal kelihatan harmonis. Namun, bila perlu adanya koordinasi, terlihat’ bahwa komunikasi dan koordinasi seolah sulit sekali diatur dan diimplementasikan ke dalam kegiatan yang terarah (Eileen R & Sylviana S, 2008).

KOMITMEN BUKAN PRODUK INSTAN

Komitmen merupakan ikatan psikolo-gis karyawan pada organisasi yang ditandai dengan tiga hal. Pertama, kepercayaan dan penerimaan yang kuat atas tujuan dan nilai-nilai organisasi. Kedua, kemauan untuk melakukan usaha secara sungguh-sungguh (bekerja keras), memberikan yang terbaik demi tercapainya kepentingan organisasi. Ketiga, keinginan yang kuat untuk mempertahankan kedudukan sebagai anggota organisasi. Jadi sesungguhnya komitmen sepenuhnya merupakan pilihan individu dan dipengaruhi banyak hal. Faktor personal, karakteristik pekerjaan, karakteristik struktur organisasi serta pengalam kelja sangat berpengaruh terhadap komitmen karyawan. Karyawan yang baru tahun kemarin masuk Perhutani, karyawan yang sudah “bosan” jadi KRPH, Asper, Adm, Manajer, GM, Karo, bahkan Asdir, dll sekalipun serta bagi karyawan yang hendak memasuki puma tugas pasti berbeda tingkat komitmennya.

Beda tipis dengan kepatuhan, dan kewajiban yang normatif, komitmen (afektit) adalah sepenuhnya pilihan individu. Individu yang memilih untuk komit biasanya sudah melalui proses pertimbangan terhadap kebutuhan dan visinya sendiri dan juga yakin akan nampak sikapnya. Karena itu individu yang berkomitmen tinggi biasanya memberikan “impact” yang lebih besar di pekeljaan, lebih persuasif, lebih terbuka terhadap kemungkinan dan kritik. Pilihan perilaku yang diambil seseorang yang berkomitmen pun akan diarahkan pada dua hal yang sangat penting, yaitu mendukung dan mengembangkan, karena hanya dengan sikap seperti itulah kelompok dapat maju dan mencapai tujuan yang sudah sama-sama dipahami (Eiilen R & Sylviana S, 2008).

Membangun komitmen karyawan merupakan proses yang panjang dan tidak bisa dibentuk secara instan. Perusahaan harus benar-benar memberikan perlakukan yang benar pada masa awal karyawan bergabung, hingga persepsi positip kepada perusahaan akan terbentuk. Sesungguhnya manajemen Perhutani telah melakukan banyak hal untuk membentuk komitmen karyawannya, melalui pembenahan manajerial, khususnya manajemen SDM. Mulai dari menjadikan visi dan misi perusahaan kharismatik (make it charismatic), pembenahan sistem dan pola karir, pola diklat, penciptaan dan pewarisan budaya perusahaan (build the tradition), acara-acara untuk menjalin kebersamaan (get together), kebijakan peningkatan status karyawan, dan lain-lain. Para ahli manajemen menyebutkan tidak kurang dari 20 cara yang bisa dilakukan untuk membangun komitmen karyawan.

Ada dua hal terpenting untuk dilaksanakan agar komitmen terbentuk, secara kuat adalah tindakan pimpinan memberikan teladan dalam bentuk sikap dan tindakan sehari-hari (Hire “Right-Kind” managers) serta prinsip tindakan jauh lebih penting dari sekedar kata-kata (walk the talk). Pimpinan harus mulai berbuat sesuatu, tidak sekedar berbicara atau retorika belaka. Pimpinan pada level <!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
melakukan itu, strategis (kantor pusat), taktis (kantor unit). maupun operasional (KPH/KBM), baik top manajemen, middle manajemen atau pun lower manajemen.

KEPUASAN KERJA = TUNDUK PADA SISTEM

Komitmen berarti menyadari dan bersedia menerima resiko dari tindakan yang sudah diputuskan dan siap mene-rima tanggung jawab. Seorang Adm/ KKPH atau AsperlKBKPH yang sudah berkomitmen untuk mencapai level KPI (Key Peiformance Indicator) tertentu, atau Laba/Rugi tertentu dalam RKAP-nya akan serta merta mengerahkan segala upaya untuk mencapainya. Tanpa pengambilan risiko tersebut, komitrnen pimpinan mulai dari KRPH, AsperlKBKPH, Wk Adm/ KSKPH dan Adm/KKPH-nya akan tidak memiliki makna apa-apa. Demikian pula untuk segenap karyawan KPH. Komitmen akan terasa bila setiap karyawan dalam KPH itu mau bergabung mendukung tindakan, bersedia untuk di “kerahkan” dan siap bertanggung jawab terhadap tugas dan bahkan ikut serta meng-handle segala persoalan yang pasti muncul dalam mengemban tugas demi kesuksesan rencana kerja yang telah ditetapkan.

Yang menjadi ganjalan kini-mudah-mudahan penulis salah menduga dalah persoalan kepuasan kerja yang menjadikan tingkatan komitmen karyawan menurun levelnya. Dengan alasan tidak puas dengan “kesempatan untuk berkembangl promosi” atau “tingkat upah/gaji” tak memadai, posisi komitmen berada pada titik terendah. Bahkan yang lebih gawat jika sudah tidak ada komitrnen lagi, alias semua rencana dan sasaran perusahaan dijalankan dengan “as usual” dan “mengambang”, tanpa ada “greget” dan kerja keras. Yang paling parah adalah terjadinya menomorduakan kepentingan perusahaan yang ditandai dengan tidak mau kompak satu sama lain dan “semau gue”.

Jawaban dari kemunduran tingkat komitmen itu sesungguhnya adalah sikap tunduk pada sistem yang telah dibangun oleh manajemen. Bangun sistem, perbaiki sistem, intemalisasi sistem, implementasikan sistem dan evaluasi sistemnya, sebuah siklus pencipta harmonisasi yang rasional dan telah teruji di sejumlah perusahaan terkemuka. Demokratisasi penciptaan kebijakan (terutama pengelolaan SDM) mutlak dilakukan. Yang harus kita ingat adalah demokrasi diciptakan bukan untuk tujuan efisiensi, maka urusan tanggung jawab dan kepentingan perusahaan harns dijadikan rujukan utama. Manakala telah disepakati menjadi keputusan, maka menjadi komitmen setiap karyawan untuk mentaati dan melaksanakan tanpa pandang bulu. Urusan kepuasan kerja wajib dikesampingkan, karena sesungguhnya ia merupakan tanggapan emosional karyawan, bisa puas (positif) dan tidak puas (negatif), kendati aspek-aspek kepuasan kerja memang bisa diukur.

Sekali lagi, komitmen selalu bersifat personal, tidak bisa mengatas namakan institusi. Selain itu komitmen memperjelas sasaran kinerja, dan sekaligus berfungsi sebagai “perekat” antara karyawan dan manajemen. Yang penting, komitmen pimpinan perusahaanlah (termasuk pimpinan setiap unit kerja) yang akan melapangkan jalan para karyawannya menuju perubahan ke arah lebih baik.

Sudah tiba saatnya komitrnen bukan menjadi sebuah wacana dan retorika. No Time to Talk, Now Time to Act. Memberikan yang terbaik untuk perusahaan dalam nuansa kebersamaan (dedicated to excellence on solidarity). Tetap komit dan kompak!!

SUSILO BUDI WACONO

Karyawan Perhutani Unit III

Anggota Sekar No: 075/DPW/KANPUS/2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: