DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP BISNIS PERHUTANI

Krisis keuangan global telah mengguncang perjalanan dan kinerja bisnis para pelaku usaha di Indonesia. Sejumlah perusahaan pada kelompok industri tertentu, khususnya yang bersifat padat karya dan berorientasi ekspor mengalami penurunan order. Bahkan prospek industri kayu tahun 2009 akan berada pada level “mencemaskan”. Kalangan industri telah merespon dengan melakukan efisiensi, penguatan pasar lokal/ domestik, diversikasi produk maupun penjajagan pasar non tradisional (selain AS, China dan Eropa). Yang sudah terjadi saat ini adalah “perumahan” karyawan sebagai salah satu langkah peningkatan produktititas, melakukan efisiensi pada proses produksi, bahkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Berbagai instrumen kebijakan pemerintah, baik fiskal dan keuangan maupun ketenagakerjaan dan perdagangan telah diluncurkan untuk membantu mengatasi dampak krisis.

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana dampak krisis keuangan global terhadap perjalanan bisnis Perhutani ke depan (khususnya kondisi bisnis tahun 2008 dan prospek tahun 2009), berikut hasil perbincangan Pemred MAHONI (SBW) dengan Direktur Industri dan Pemasaran Perhutani (AF). Perbincangan kami lakukan setelah mengikuti acara audiensi pengurus Sekar dengan BOD (04/12/2008).            Wawancara dilakukan di ruang kerja Dirinsar, sedangkan pemred ditemani oleh Harry Soediana, Humas DPW Janten.

Berikut Hasil Wawancara MAHONI dengan Dirinsar :

SBW: Bagaimana posisi pendapatan Perum Perhutani s/d awal Desember 2008?

AF: Jadi, dalam sejarah RKAP, penghasilan kita sampai dengan awal Desember 2008 seperti yang saya sampaikan, selama sepuluh tahun terakhir itu yang terbaik adalah tahun ini, dimana pencapaiannya sudah diatas 90% yaitu tepatnya 91,6%. Ini tidak lain karena dengan volume yang sama tetapi harga rata-ratanya jauh lebih bagus baik kayu maupun non kayu sehingga secara total melebihi NPS, Pertanyaan mendasarnya adalah kira-kira RKAP sampai dengan akhir tahun tercapai atau tidak? Kalau melihat potensi komoditi yang kita jual, kayu di Jawa Barat ada kekurangan volume antara RKAP dengan realisasi, di depan mata sudah ada kekeliruan perhitungan, itu ada ribuan m3 sehingga dari sisi volume penjualan saja ada kekurangan. Yang kedua mengenai non kayu di Jawa Timur (getah ) yang pencapaiannya jauh dibawah NPS sehingga sampai akhir tahun diperkirakan pencapaiannya tercapai antara 95-96%.

SBW: Secara total, bagaimana pendapatan dari kayu, non kayu, dari penjualan dalam negeri dan ekspor serta bagaimana prediksinya s.d Desember 2008 terhadap RKAP?

AF: Prediksi saya kalau semua penghasilan yang kita jual di tahun 2008 bisa masuk penghasilan tahun 2008 itu yang diestimasi 96% itu bisa tercapai. Hanya masalahnya adalah di sistem akuntansi keuangan belum pernah membuku piutang, misalnya ada orang yang sanggup membayar di awal Januari harusnya kesanggupannya di buku di piutang karena bakal tertagih. Di sistem akutansi kita belum bisa sehingga kalaupun dibayarnya Januari padahal fisiknya adalah hasil tahun 2008 maka masuk tahun berikutnya (2009), dan itu cukup besar, baik permintaan penundaan ekspor kayu maupun non kayu.

SBW: Beberapa pelaku usaha sektor kehutanan memprediksi bahwa prospek ekpor industri kehutanan tahun 2009 akan terpuruk. Diprediksi ekspor ke AS turun 15%, pasar China dan Eropa turun 5- 10%. Bagaimana dampaknya terhadap bisnis Perhutani ke depan, khususnya produk ekspor Perhutani?

Pemred Mahoni Susilo Budi Wacono saat mewawancarai Direktur Insar Perum Perhutani Achmad Fachrodji di ruang kerjanya.  Direksi Memastikan diri untuk melangkah menyikapi krisis global

Pemred Mahoni Susilo Budi Wacono saat mewawancarai Direktur Insar Perum Perhutani Achmad Fachrodji di ruang kerjanya. Direksi Memastikan diri untuk melangkah menyikapi krisis global

AF: Kebetulan khusus produk perhutani secara spesifik sangat dikenal terutama dari kayu jati , namun demikian end user atau konsumen luar negeri itu, ibarat hidup kan ada pilihan pilihan. Dengan krisis keuangan global itu biasanya mereka memilih kebutuhan yang tersier. Kalau garden furniture, flooring dan barang kualitas tinggi itu kebutuhan tersier ditunda , lebih memilih kebutuhan primer. Kebutuhan primer pun  tergantung dari pilihan-pilihan konsumen, kalau misalnya pangan pasti yang namanya food itu perlu, kalu pendukung seperti minyak, minyak goreng atau minyak-minyakan yang lain, kalu bisa ditunda yang ditunda.  Misalnya CPO dari $ 1700 (per ton) menjadi $ 500 (per ton) itu menandakan bahwa konsumsi minyak goreng dunia itu turun.  Kalau bisa direbus kenapa digoreng dan seterusnya, itu tren nya seperti itu. Kayu juga begitu, kalau bisa ditunda beli kayu jati ngapain harus sekarang.  Itu rata-rata penundaan bukan pembatalan.  Kiat kita adalah konon konsumen sekarang kan ada namanya environmental friendly (akrab lingkungan).  Jadi kalau kita terjemahkan adalah bagaimana kita menjual dengan brand image “green product”.  Kalaupun sertifikasi belum kita dapatkan minimal pengawalannya kita ekspor keluar, bahwa kita menuju goes to sertification. Kenapa kita harus ikut member TFT yang membayar 2 dollar AS perm3, karena tujuannya adalah menciptakan brand image bahwa kita akrab dengan lingkungan meskipun belum sertifikasi.  Karena satu-satunya dari NGO luar negeri yang logonya boleh dipasang di produk-produk yang diekspor adalah TFT kalau WWF tidak, makanya kita membayar cukup besar. Untuk non kayu pesaing kita untuk gum rosin dan terpentin adalah China, kita follower. Kalau China menurunkan harga $ 200 kita tidak mungkin bertahan dengan harga yang sama. Kita kembalikan ke SBU nanti di Unit, apakah unit itu mau menahan stok, menunda sampai harga tinggi tapi dengan catatan cash flow nanti berat atau menjual awal tahun, tetapi dengan harga yang turun seperti China, 200 dollar AS /ton itu kan cukup besar. Nanti kita perlu rundingkan jangan kita ekspektasi harga naik di triwulan berikutnya temyata tidak naik lagi malah sudah terlanjur normall, dan cash flow kalau kita terima sekarang ini kan ada bunga bank nya itu yang perlu kita create antara Direksi dengan SBU.

SBW: Sebenarnya berapa besar proporsi pemasaran kita antara dalam negeri dengan ekspor. sehingga secara total, pengurangan pendapatan dari penurunan ekspor bisa diprediksi secara tepat?

AF: Jadi begini, pada prinsipnya semua produk yang kita jual adalah eksportable. Kayu bundar pun kita jual ke pabrikan itu pasti untuk tujuan ekspor, tidak ada yang spesifik untuk fumitur lokal. Hanya mungkin antara 10-15% yang untuk konsumsi lokal, kayu doreng atau kayu tak laku itu untuk konsumsi lokal, sedangkan kayu Al dan A2 pun yang dulu nggak laku sekarang jadi rebutan, kenapa? Karena tren pasar berubah, dari garden furniture kejlooring. Sejak olimpiade China, semua hotel di China minta dibikinkanjlooring, itulah makanya Al dan A2 rebutan. Terus pada saat yang sama di Eropa tren semua hotel juga menggunakanjlooring, makanya harga jlooring untuk tujuan Eropa jauh lebih tinggi, $ 1000 lebih tinggi dari harga China. Kalau China $ 2400, di Spanyol atau Itali bisa diatas $ 3300. Rendemen jlooring itu cukup tinggi lebih dari 30%, kalau rendemen garden furniture di bawah 25%, secara ekonomis menguntungkanjlooring, ada pergeseran. Jadi, semua yang kita jual prinsipnya semua exportable, gum rosin lokal pun itu hanya 20% menurun, untuk perusahaan batik, industri derivate berupa paper sizing di dalam negeri, hanya menyerap 25%, tidak besar, jadi tetap orientasi pasar kita adalah ekspor. Pengaruhnya secara totally kalau kita menggarap potensi lokal kalau tadi di koran bilang 15 sampai 20% barangkali kita bisa menekan di bawah 10%. Tapi perlu diingat 10% dari total revenue Rp 2,4 triliun sama dengan Rp 240 milyar, kan cukup besar, sudah siapkah kita berkurang penghasilannya Rp 240 milyar, kan gitu.

SBW: Langkah antisipasi melalui penguatan pasar domestik atau lokal, diversifikasi produk maupun diversifikasi pasar tengah gencar dilakukan pelaku usaha, bagaimana peluang itu dimanfaatkan oleh Perhutani dalam waktu beberapa bulan ke depan?

AF: Jadi, kita lagi propose yang bersifat paradoks dan anomali. Kalau kita berpikir bisnis konvensional itu kan “judeg”, cukup dengan pemikiran lama, jual kayu, dipotong, gergaji, terus jadi garden furniture. Bagaimana menjual yang dulu pemah kita jual yaitu ekspor kayu bulat. Kemarin sudah berunding dengan Menhut dan Dirjen BPK kenapa kita berani mengirim tim ke Myanmar 5 (lima) orang itu adalah inisiasi untuk mengetahui bagaimana ekspor. Ekspor kayu bulat ini bisa menghasilkan nilai yang mungkin 50% di atas yang konvensional, berapa persen kayu bulat yang kita ekspor nantinya kalau sudah diijinkan, itu yang kita rundingkan dengan stake holder, jangan sampai kita ekspor kayu bulat semua industri di Jepara, Pasuruan mati semua.

SBW: Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah acara mempersiapkan proses sertifikasi PHL, tengah dibincangkan upaya Perhutani untuk ekspor log, apakah itu tidak merupakan kebijakan yang “set back” padahal pada masa lalu pemerintah pernah melarang ekspor log?

AF: Kalau dari sisi bisnis kan kita ikut putaran Uruguay, putaran Uruguay itu dan diwasiti oleh WTO (World Trade Organization), organisasi perdagangan dunia, ltu tidak membolehkan suatu negara memberlakukan komoditinya secara khusus tidak diekspor, harus dijual bebas. Indonesia itu sebetulnya membolehkan ekspor kayu bulat, tetapi dengan pajak ekspor yang tinggi sekali, nah itu yang nggak mungkin laku. Misalnya, yang dulu kita pemah ekspor kayu gergajian pajak ekspomya 100%, jadi dua kali lipat dan seterusnya. Kita lagi melakukan komunikasi dengan beberapa unsur pemerintah agar ini bisa di goal kan.

SBW: Sudah banyak terobosan dilakukan oleh Diretorat Insar. Untuk pencapaian RKAP ada banyak hal yang mempengaruhi, mulai hulu (produksi) sampai hilir (pemasaran). Dari sisi pemasaran sendiri apa yang dilakukan, sehingga nilai jual produk kita akan menjadi bertambah atau mungkin melakukan diversifikasi produk?

AF: Jadi, value creation, kemampuan kita menciptakan nilai lebih dengan berbagai cara. Kalau pemasaran sekarang masih melaui KBM kalau nanti berubah ke KPH lagi kita nggak tahu, maka setiap KBM sudah harus tahu mendeteksi apa keinginan Konsumen. Moto pemasaran consumer satisfaction atau bagaimana memberikan kepuasan pada pelanggan. Jadi, seperti Bu Upik (Pit Dirut) katakan, kita harns tahu kalau pasar minta potongan kayujati 2,10 meter, jangan dipotong 2,0 meter, nanti malah nggak, turunnya jadi 1,5 meter dan seterusnya. Jadi, tren pasar harns kita ikuti terus, karena kita jualnya bukan lagi kaplingan yang besar besar tetapi per sortimen dengan demikian akan ada peningkatan harga rata-rata, khususnya kayu. Sedangkan untuk non kayu memang selagi kita jadi follower dengan China kita hanya berharap bahwa di China sendiri akan ada perubahan yang besar seperti tahun 2008 ini. Kenapa harga pemah mencapai $ 1000/ton karena disana ada taifun, masa kita berharap agar disana ada bencana alam, ada taifun besar, ada kasus Tibet itu masalah demokratisasi. Dari produksi tahun 2007 sekitar 850.000 ton turun menjadi di bawah 700.000 ton, pada saat yang sama China itu membuat industri derivate, 30%-nya yang tadinya diekspor itu dijadikan derivate di dalam negeri, sehingga gondorukem atau gum rosin yang diekspor berkurang, itulah maka harganya tercapai. Sekarang kenapa harga kok turun, karena itu tadi semua mitra kita, itu kan produsen-produsen derivate, yang untuk nulis menulis adalah tinta, tinta itu kan dari gum rosin, orang sekarang dengan paperless tidak pakai tinta pun jadi, sms-pun jadi, maka berkuranglah penggunaan tinta, apalagi di issue financial global. Demikian juga penggunaan kertas, sebagian kan untuk paper sizing, melindungi kertas dari basah, itu otomatis juga berkurang penggunaan kertas, maka konsumsi dunia akan menjadi berkurang. Di saat yang sama derivate Cina yang barn dibangun 2008 sudah ekspor ke Eropa, otomatis masuk ke pasar Eropa mematikan industri derivate Eropa, sehingga ada pabrik besar langganan Perhutani yang berada di Portugal itu ditutup, milik HEXION yang biasa jadi pelanggan. Dengan demikian, maka permintaannya relatif turun kalau permintaannya relatif turun, berarti mereka minta koreksi harga.

SB W: Apakah produk gondorukem dan terpentin memang peluang pasarnyanya sudah ban yak tertutup atau pasarnya memang spesifik atau kita sangat sulit melakukan diversifikasi pasar?

AF: Jadi, persoalan pasar yang selama ini melakukan penetrasi pasar adalah agen, kita sendiri harns mulai berani mengambil terobosan, beranikah kita mell1kdkan direct selling, tanpa agen. Ini kan sensitif karena di Perhutani itu ada yang pro harns agen terns atau ada yang kalau perlu agen ditiadakan sama sekali. Kita di pemasaran sudah berkomunikasi namanya E-commerce by internet, pada para mitra. Pertanyaan mereka adalah boleh tidak pembeli itu membayar dua bulan, kemudian saya sampaikan ke Direktur Keuangan dan juga deputi Menteri Negara BUMN tidak boleh, basisnya tetap cash and carry. Bayangkan kalau nanti nggak cair uangnya setelah dua bulan, nagihnya ke mana, kan begitu. Akhimya nanti kalau unpaid/tidak terbayar kita kena kasus, seperti global marketing dulu di Jerman, itu barn kita cerita kayu dan non kayu yang besar yaitu gum rosin. Bagaimana dengan produk-produk yang lain dari mulai seedlak, kopal, sampai ke Ylang-ylang. Treatmen kita di si si hulu, bagaimana seedlak volumenya meningkat, kan kita menemukan seorang Asper/KBKPH yang melakukan kreasi besar sehingga volumenya jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Tetapi di Perhutani, kalau ada Asper yang pintar apakah mereka nggak berhak melakukan mutasi/pindah, kalau dipindah jangan jangan penggantinya nanti “melempem”, itu kan dilema. Ylang – ylang itu kan ada semacam dilematis antara di teruskan atau berhenti. Begini contohnya, kalau kita mau menjual produk yang harga tinggi mestinya perlu ada penelitian laboratorium yang bagus dengan contoh produksi yang bagus. Saya mau jual itu dikasih Ylang-ylang stok lama yang masih ada, berapa puluh kilo itu masih ada. Kalau produk lama pembelinya tidak mau seperti pabrik minyak wangi Bulgary pinginnya yang pure (baru), mau masak baru, Jawa Barat bilang stok lama saja belum keluar, ini dilematis, tapi ini volumenya tidak besar. Yang besar ke depan dan perlu dimuat di Mahoni, karena ini masih “tanda Tanya”, mengenai produk ketahanan pangan dan energy berbasis sorgum. Saya tidak mau berpolemik karena nanti bisa-bisa Bang Muslimin, Bang Pohan, terus Ali Rahman bertanya-tanya Iho koq Dirsar membahas masalah ini. Kalau nanti ini menjadi prospek yang besar pada intinya harus kita support besar besaran termasuk Sekar. Karena dari sekarang kan per unit 15 ha, dikembangkan tahun depan 45 ha per unit dan berikutnya sekitar 450 ha dan pada saat 450 Ha per unit, itu diharapkan penghasilannya sudah di atas 500 milyar, kan gitu. Pertanyaannya apakah ini bisa? Itu tidak bisa dijawab oleh hanya kita di direktorat pemasaran, karena di dalam agribisnis itu, namanya agribisnis jadi semua dari hulu, angkutan sampai industri harus kita pegang, harus kita kuasai kalau tidak , nanti yang menikmati adalah trader.  Saya melihat potensi besar, kalau karyawan pingin gajinya terus meningkat harus digali di luar ansich masalah kayu maupun gum rosin, kalau dua itu terus,  meski value creation ditingkatkan kayak apa , nggak mungkin kayu jati harga rata-ratanya di atas Rp 10 juta.

Perbincangan harus diakhiri, setelah Asdir Pemasaran, Pak Heru Siswanto, mengetuk pintu ruangan Pak AF dan mengingatkan kepada pemilik senyuman khas seorang Direktur, karena mereka berencana hendak menuju ke bandara Soekarno – Hatta, untuk melakukan tugas

dan aktifitas di luar Jakarta. Semoga badai cepat berlalu, kinerja industri dan pemasaran memberikan hasil yang “luar biasa”. Pendapatan sesuai RKAP tercapai, produk Perhutani semakin dikenal dan senantiasa dimanfaatkan dalam kehidupan umat manusia. Pada gilirannya bisa dipastikan perusahaan semakin sehat, Perhutani jaya dan kesejahteraan karyawan dengan mudah ditingkatkan. Semoga!! (HARRY, DPW SEKAR JANTEN)

5 Komentar

  1. Isnin Soiban said,

    11 Februari 2009 pada 2:32 am

    Pada saat wawancara dgn Sekmen BUMN, bisnis yang bergerak di bidang agro hampir tidak ada dampak dan kondisi BUMN sangat stabil. Namun pendapat lain bahwa produk kayu masuk kategori skunder bahkan tersier, artinya konsumen masih dpt menunda kebutuhannya. Apabila hal tsb betul, maka kemungkinan pasar kayu yang masih menjadi core bisnis PHT akan terkena dampak.

  2. Ade M said,

    10 Desember 2009 pada 1:01 am

    Pendapatan Wisata Perhutani Yang sekarang sudah mulai menunjukan peningkatan pendapatan setelah pengelolaannya sebagian obyek diserahkan ke KPH yang dulu dikelola oleh KBM WBU dan sekarang di kelola seksi ( AEJ ).
    Ucapan selamat saja buat Kasi AEJ walaupun baru tapi sudah membuktikan kemampuannya.

  3. Ade M said,

    10 Desember 2009 pada 1:06 am

    Pendapatan Wisata Perhutani Yang sekarang sudah mulai menunjukan peningkatan pendapatan setelah pengelolaannya sebagian obyek diserahkan ke KPH yang dulu dikelola oleh KBM WBU dan sekarang di kelola seksi ( AEJ ).bukan hanya itu saja pendapata dari sektor HHBK pun mulai ada peningkatan
    Ucapan selamat saja buat Kasi AEJ dan jajaranya walaupun baru tapi sudah membuktikan kemampuannya.

  4. 22 Oktober 2010 pada 11:35 am

    jepara mebel furniture store online

  5. aryoyateno said,

    4 Januari 2013 pada 7:02 pm

    apakah ada/pernah mencoba stek pucuk pinus merkusi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: